Abdurrahman bin ‘Auf: Menangis karena Terlalu Banyaknya Harta yang Dimiliki

oleh -1841 Dilihat
foto: Freepik.com

MEMORANDUM – Rasulullah SAW memiliki banyak sekali sahabat yang menemaninya dalam menyampaikan dakwah Islam.

Mereka adalah orang-orang yang sangat beriman kepada Allah dan tidak pernah membantah perintah Rasulullah. Hal ini karena mereka tahu bahwa perintah Rasulullah merupakan perintah Allah SWT.

Rasulullah memiliki sahabat yang kekayaannya tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan sahabat lainnya. Namanya adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau merupakan Assabiqunal Awwalun “orang-orang yang pertama kali masuk islam” di rumah Arqam bin Abi Arqan melalui Abu Bakar As-Shiddiq.

Abdurahman bin ‘Auf juga disebut dalam jajaran nama para sahabat yang dijamin masuk surga.

Dari Sa’id bin Zaid yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.”

Meskipun dikenal sebagai yang terkaya dan mendapat  julukan “sang bertangan emas”, Abdurrahman bin ‘Auf tidak pernah menggunakan hartanya untuk berfoya-foya. Beliau sampai menangis karena hartanya yang tidak pernah habis bahkan sampai berusaha untuk menjadi miskin.

Hal tersebut disebabkan karena Rasulullah berkata, bahwa Abdurrahman bin ‘Auf akan masuk surga paling terakhir karena hartanya yang terlalu banyak. Perhitungan amal atau hisabnya akan sangat lama.

Abdurrahman bin ‘Auf lahir dari keluarga yang terhormat dan kaya di kalangan suku Quraisy. Saat memeluk agama Islam, beliau menyedekahkan setengah hartanya senilai 4 ribu dinar.

Setelah itu, beliau bersedekah lagi sebanyak 40 ribu dinar dan seterusnya.

Dinar merupakan alat tukar berupa emas murni dengan berat sekitar 4,25 gram. Satu dinar jika dirupiahkan bernilai sekitar 2,2 juta dan tidak akan pernah mengalami inflasi maupun deflasi.

Tidak berhenti dari situ, beliau juga menyumbangkan hewan ternaknya untuk kebutuhan dakwah Rasulullah. Sebanyak 500 ekor kuda belliau sumbangkan untuk keperluan transportasi. Lalu, pada saat hendak perang di jalan Allah beliau pun menyumbangkan 500 ekor unta.

Selain itu Beliau juga dikatakan telah memerdekakan ribuan budak. Sebagian besar harta Abdurrahman bin ‘Auf berasal dari perdagangan yang beliau lakukan.

Kisah menarik lain dari Abdurrahman bin ‘Auf saat berusaha menjadi miskin adalah saat setelah perang Tabuk.

Beliau membeli kurma busuk yang ditinggalkan di Madinah oleh sahabat yang pergi untuk berperang. Beliau membeli semuanya dengan harga normal.

Hal itu jelas membuat para sahabat senang karena dagangannya yang dikira tidak akan laku telah habis tak bersisa dibeli oleh Abdurrahman bin ‘Auf. Namun usahanya menjadi miskin gagal.

Suatu ketika seorang utusan dari Yaman datang mencari kurma busuk yang konon dapat mengobati penyakit menular yang menyerang negerinya.

Utusan dari Yaman tersebut kemudian menemui Abdurrahman bin ‘Auf dan membeli kurma busuk miliknya dengan harga 10 kali lipat dari harga normal.

Saat Rasulullah mendirikan Baitul Mal di Madinah pun, Abdurrahman bin ‘Auf menjadi salah satu sahabat yang paling banyak menyumbangkan hartanya. Beliau menyumbangkan separuh hartanya untuk membantu memenuhi kebutuhan umat Islam yang kekurangan.

Abdurrahman bin ‘Auf adalah contoh nyata bagi umat Muslim bahwa kekayaan melimpah seharusnya tidak digunakan untuk berfoya-foya atau membeli hal yang tidak diperlukan, melainkan dimanfaatkan dengan bijak dan tetap mengingat tujuan utama, yaitu akhirat.

Semoga kisah Abdurrahman bin ‘Auf dapat menjadi inspirasi bagi seluruh umat Islam untuk menggunakan segala nikmat yang diberi Allah pada tujuan yang lebih baik dan mulia.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Akmal Haidar – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Akmal Haidar
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.