Awal Berdirinya NU: Sejarah dan Tokoh Pendiri Nahdlatul Ulama

oleh -4946 Dilihat
foto: tangkapan layar YouTube.com

MEMORANDUM – Nahdlatul Ulama atau yang biasa disingkat menjadi NU merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Organisasi ini sudah berdiri selama lebih dari satu abad jika dihitung menggunakan kalender Hijriah.

NU telah resmi didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 M atau jika di kalender Hijriah maka bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H.

Sebagai organisasi yang lahir dari kalangan pesantren, NU memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam di Indonesia.

Selain itu, NU juga berperan penting dalam menjaga keberagaman, toleransi, dan juga penguatan nilai-nilau keislaman yang berlandaskan Aswaja.

Awal Berdirinya NU

Ahlussunnah wal Jamaah atau yang sering disebut dengan Aswaja menjadi peran penting yang melatar belakangi berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama.

Pasalnya, para ulama yang berlandasan Aswaja pun ikut andil dalam pergerakan mempertahankan ajaran Islam sesuai dengan tradisi yang ada.

Salah satu ulama yang berperan adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Melansir dari laman NU Online, para ulama yang sudah merencanakan hal tersebut membahas semuanya di kediaman KH. Abdul Wahab Hasbullah yang berletak di Kertopaten.

Sebelum berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama, terdapat beberapa organisasi Islam yang sudah lebih dulu muncul, seperti Nahdlatul Wathon yang didirikan oleh KH Wahab Hasbullah pada tahun 1916, dan juga Nahdlatut Tujjar yang berdiri pada tahun 1918.

Pada akhirnya, KH Mas Alwi Abdul Aziz menyarankan kata “Nahdlatul Ulama” untuk digunakan, yang mana mencerminkan kebangkitan para ulama yang memiliki sanad keilmuan dan perjuangan yang panjang.

Tokoh Pendiri Nahdlatul Ulama

Melansir dari laman Kompas.com, terdapat beberapa ulama yang ikut berperan dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama, yaitu:

  • KH Hasyim Asy’ari (Jombang, Jawa Timur)
  • KH Abdul Wahab Chasbullah (Jombang, Jawa Timur)
  • KH Bishri Syansuri (Jombang, Jawa Timur)
  • KH Asnawi (Kudus, Jawa Tengah)
  • KH Nawawi (Pasuruan, Jawa Timur)
  • KH Ridwan (Semarang, Jawa Tengah)
  • KH Maksum (Lasem, Jawa Tengah)
  • KH Nahrawi (Malang, Jawa Timur)
  • KH Abdul Halim Leuwimunding (Cirebon, Jawa Barat)
  • KH Ridwan Abdullah (Jawa Timur)
  • KH Abdullah Ubaid (Surabaya, Jawa Timur)
  • Syekh Ahmad Ghana’im Al Misri (Mesir)

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Abiel Mahasin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.