Fenomena Rebutan Takjil di Surabaya, Antusiasme atau Ketamakan?

oleh -2383 Dilihat
foto: pinterest

MEMORANDUM – Setiap Ramadan, tradisi berbagi takjil menjadi pemandangan umum di berbagai sudut kota. Namun, di Surabaya, momen ini sering kali berubah menjadi ajang rebutan yang jauh dari kata kondusif.

Bukan hanya para pengendara motor atau pekerja kelas bawah yang berusaha mendapatkan takjil gratis, tetapi juga pengendara mobil yang, ironisnya, ikut berebut jatah dengan mereka yang lebih membutuhkan.

Pengendara Mobil Ikut Berebut Takjil

Saat pembagian takjil dimulai, para pengendara motor biasanya langsung merapat untuk mendapatkan bagian. Namun, tak jarang ada juga pengendara mobil yang ikut “nyahut”—entah mereka pengemudi taksi online atau bukan.

Salah seorang warga yang sudah berpengalaman berburu takjil di Surabaya menyebut bahwa momen-momen seperti ini selalu berlangsung dengan cepat dan penuh sesak. Ia bahkan kerap berkeliling ke beberapa titik pembagian takjil dan mendapati suasana yang sama.

Di Jalan Raya Wiyung, misalnya, tak jarang terlihat dua hingga tiga mobil ikut berhenti saat takjil dibagikan. Lebih dari itu, bukan hanya sopirnya yang turun, tetapi juga rombongan keluarga yang ikut berebut.

“Apakah mereka benar-benar orang kaya? Saya tidak bisa memastikan,” ujarnya dengan nada tanya.

Namun, keluhan dari seorang pengemudi ojek online yang melihat fenomena ini cukup menyentak: “Wong tumpakane mobil kok melu rebutan takjil” yang artinya, “Orang naik mobil kok ikut rebutan takjil.”

Momen Gratisan, Tak Ada Kata Mengalah

Karena pengalaman melihat “persaingan” takjil yang begitu sengit, beberapa kelompok memilih membagikan makanan secara lebih terarah. Mereka tidak lagi menetap di satu lokasi, melainkan berkeliling dengan motor, mencari tukang becak atau pemulung untuk diberikan nasi kotak. Bahkan, mereka membawa banner kecil bertuliskan “Khusus Tukang Becak dan Tukang Sampah” agar pembagian takjil tepat sasaran.

Namun, kenyataannya, banner itu sering kali diabaikan. Beberapa pengendara motor yang melihat aksi berbagi ini justru sengaja putar balik untuk membuntuti. Saat makanan hendak diberikan, mereka langsung menyerbu tanpa memedulikan tulisan yang jelas-jelas menyebut bahwa takjil tersebut diperuntukkan bagi mereka yang lebih membutuhkan.

Bagi-Bagi Takjil di Surabaya. Antusias atau Serakah?

Mengamati fenomena ini dari tahun ke tahun, suasana bagi-bagi takjil di Surabaya memang nyaris tak pernah berjalan kondusif. Beberapa orang mungkin lebih suka menyebutnya sebagai bentuk antusiasme yang tinggi. Namun, tetap saja, tak bisa dimungkiri bahwa bagi mereka yang benar-benar membutuhkan, situasi ini justru menambah kesulitan.

“Pernah juga melihat orang bermobil ikut rebutan. Sebenarnya nggak apa-apa. Cuma, apa ya… mentolo (tega). Sudahlah nggak kepanasan karena naik mobil, tapi ikut berebut dengan ojol-ojol yang seharian kepanasan,” keluh seorang pengendara motor.

Artikel Ini Ditulis Oleh Ahmad Rifqi Syihabuddin. Mahasiswa Magang di Memorandum 

 

Penulis: Ahmad Rifqi Syihabuddin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.