Kenapa Rating IGRS di Steam Bisa Kacau? Berikut Penjelasan Lengkapnya

oleh -139 Dilihat

SURABAYA, MEMORANDUM.COM – Isu mengenai rating Indonesia Game Rating System (IGRS) di Steam menjadi salah satu pembahasan terbesar dalam industri gim Indonesia pekan ini. Permasalahan bermula ketika banyak pengguna menemukan label usia yang dinilai janggal dan tidak selaras dengan konten gim yang ditampilkan.

Kasus yang paling ramai diperbincangkan adalah ketika PUBG justru muncul dengan rating 3+, sementara Upin & Ipin Universe ditampilkan dengan label 18+.

Kejanggalan ini memicu reaksi luas dari komunitas karena klasifikasi usia seharusnya menjadi acuan utama bagi orang tua maupun pemain dalam menilai kelayakan suatu gim.

Menanggapi hal tersebut, Komdigi turut melakukan investigasi karena persoalan ini dinilai berpotensi menyesatkan publik. Dari sudut pandang industri, persoalan yang muncul bukan sekadar kesalahan angka rating, melainkan terganggunya fungsi kepercayaan pada etalase digital.

Steam selama ini dikenal sebagai salah satu platform distribusi gim PC paling matang, sehingga ketika label usia dapat tampil tidak sesuai, sorotan tidak hanya tertuju pada sistem IGRS, tetapi juga pada kualitas integrasi data yang dilakukan Valve.

Dalam penjelasan resminya, Valve mengakui bahwa pada periode 2 hingga 5 April 2026 terjadi kendala teknis disertai miskomunikasi internal yang menyebabkan rating tampil tidak akurat dan tidak lengkap.

Sebagai langkah mitigasi, seluruh label IGRS untuk sementara dicabut dari halaman toko Steam Indonesia guna menghindari kebingungan lebih lanjut di kalangan pengguna.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai persoalan integrasi di Steam, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu IGRS.

IGRS merupakan sistem klasifikasi usia resmi Indonesia yang dirancang sebagai panduan untuk menentukan kelayakan gim berdasarkan kelompok umur tertentu. Fungsi utamanya serupa dengan ESRB di Amerika Serikat atau PEGI di Eropa, yakni memberikan label berdasarkan unsur kekerasan, bahasa, seksual, horor, perjudian, hingga tema psikologis.

Tujuan utamanya adalah menyediakan pedoman yang jelas bagi orang tua sekaligus melindungi anak-anak dari paparan konten yang belum sesuai usia. Dalam konteks regulasi digital nasional, IGRS juga menjadi bagian penting dalam pengawasan distribusi konten interaktif.

Secara historis, kehadiran IGRS lahir dari kebutuhan yang telah lama dirasakan oleh industri gim nasional. Selama bertahun-tahun, pemain di Indonesia lebih banyak mengandalkan label PEGI maupun ESRB yang belum tentu mempertimbangkan konteks budaya dan regulasi domestik.

Oleh sebab itu, pemerintah mendorong hadirnya sistem klasifikasi nasional agar tersedia standar yang lebih relevan, khususnya dalam upaya perlindungan anak. Kehadiran IGRS juga mencerminkan keseriusan Indonesia dalam membangun ekosistem distribusi gim yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Lalu, bagaimana IGRS dapat terintegrasi ke Steam? Berdasarkan penjelasan Valve, proses integrasi ini telah dikembangkan selama lebih dari dua tahun bersama Komdigi. Sistem yang digunakan mengandalkan mekanisme deklarasi konten oleh pengembang, yang kemudian diproses untuk menghasilkan klasifikasi berdasarkan logika IGRS.

Secara konsep, pendekatan ini tergolong modern karena memungkinkan ribuan gim diproses lebih cepat dibandingkan metode verifikasi manual satu per satu. Namun, pada fase implementasi awal, muncul ketidaksesuaian antara data deklarasi internal Steam dengan proses verifikasi resmi pemerintah.

Akibatnya, label yang tampil kepada publik merupakan hasil sistem yang belum final, sehingga banyak gim memperoleh klasifikasi yang tidak masuk akal.

Di sinilah inti kontroversi tersebut. Komdigi menegaskan bahwa rating yang sempat muncul di Steam bukan merupakan klasifikasi resmi yang telah diverifikasi pemerintah, melainkan masih berbasis self-declare dari platform. Hal ini menjadi persoalan serius karena publik menganggap angka yang tampil sebagai keputusan final dari IGRS.

Ketika kemudian diketahui bahwa data tersebut belum melalui verifikasi resmi, kepercayaan pengguna terhadap sistem pun menurun drastis. Dari perspektif industri, kasus ini menunjukkan bahwa integrasi sistem klasifikasi bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut komunikasi publik dan tata kelola data yang transparan.

Terlepas dari kontroversi yang terjadi, kasus ini justru membuka ruang diskusi yang sehat bagi perkembangan industri gim Indonesia. Selama ini masih banyak pemain yang memandang rating usia sebagai formalitas semata, padahal kesalahan pada sistem tersebut dapat berdampak serius, terutama bagi orang tua yang menjadikannya sebagai acuan utama.

Kontroversi ini juga menunjukkan bahwa IGRS masih berada dalam fase transisi penting menuju integrasi global, dengan Steam menjadi salah satu ujian terbesarnya. Apabila pembenahan berjalan optimal, Indonesia berpeluang memiliki sistem rating lokal yang benar-benar setara dengan PEGI maupun ESRB di platform internasional.

Pada akhirnya, persoalan IGRS di Steam bukan sekadar soal “PUBG menjadi 3+” yang viral di media sosial, melainkan gambaran nyata mengenai benturan antara regulasi nasional, otomatisasi platform global, dan kepercayaan pengguna. Dampaknya berpotensi menentukan arah distribusi gim di Indonesia pada masa mendatang. Jika Valve dan Komdigi berhasil menyempurnakan integrasi ini, hasil akhirnya justru dapat menjadi tonggak penting bagi penguatan ekosistem gim nasional.

Reporter: MG/ Michael Maeda

Penulis: Mg/ Michael Maeda
Editor: Muhammad Ridho


No More Posts Available.

No more pages to load.