Lautan Putih di Muzdalifah Ratusan Ribu Jemaah Haji Indonesia Lanjutkan Ibadah Puncak

oleh -1049 Dilihat

MEMORANDUM – Setelah menunaikan wukuf di Arafah, ratusan ribu jemaah haji Indonesia mulai memadati padang Muzdalifah sejak pukul 19.30 Waktu Arab Saudi (WAS).

Pergerakan masif ini menandai kelanjutan salah satu rukun haji, yaitu mabit atau menginap di Muzdalifah, sebelum bertolak ke Mina.

Para jemaah tampak tertib memasuki area Muzdalifah yang telah dibagi menjadi markas-markas sesuai dengan syarikah (kelompok) masing-masing. Petugas sigap mengarahkan setiap jemaah untuk menempati lokasi yang telah ditentukan.

Setibanya di markas, jemaah segera menunaikan salat Magrib yang dijamak dengan salat Isya, menciptakan suasana khusyuk di tengah hamparan luas tersebut.

Mabit di Muzdalifah akan berlangsung hingga melewati tengah malam. Selama periode ini, jemaah diimbau untuk memperbanyak doa dan zikir di tempat yang juga dikenal sebagai Masy’aril Haram ini.

Mereka tetap dalam keadaan ihram dan wajib menjaga semua larangan ihram hingga tahallul awal setelah melempar jumrah aqabah di Mina. Larangan akan terbebaskan, kecuali bersetubuh dengan suami/istri.

Selain beribadah, jemaah juga memanfaatkan waktu di Muzdalifah untuk mencari kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Jamarat, Mina.

Bagi yang belum mendapatkan kerikil dari syarikah, inilah kesempatan mereka mempersiapkannya.

Salah satu jemaah yang tiba di Muzdalifah sekitar pukul 20.30 WAS adalah Adinda (24) dari Kloter 11 Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG 11).

Di usianya yang masih muda, Adinda menunjukkan semangat luar biasa mendampingi ibundanya, Siti Aminah.

“Alhamdulillah bisa mendampingi ibu dengan senang selama Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina),” ujar Adinda penuh syukur, menegaskan kesiapannya menemani sang ibunda hingga seluruh rangkaian ibadah haji selesai.

Di sisi lain, sekitar 60.000 jemaah haji Indonesia yang tergolong lansia, penyandang disabilitas, dan berisiko tinggi mengikuti skema murur.

Skema ini memungkinkan mereka untuk tidak turun dari bus saat berada di Muzdalifah.

Jemaah murur hanya berhenti sejenak, kemudian langsung melanjutkan perjalanan menuju Mina untuk mabit dan melempar jumrah.

Jalur bus untuk jemaah murur ini sengaja dibuat berbeda dengan jalur bus jemaah yang mabit secara reguler di Muzdalifah, memastikan kelancaran dan kenyamanan bagi kelompok prioritas ini.(*)

Penulis: Ali Muchtar


No More Posts Available.

No more pages to load.