Masjid Agung Lamongan, Keasliannya Tetap Terjaga

oleh -2455 Dilihat

Memorandum – Masjid Agung Lamongan menjadi salah satu masjid yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Beberapa wisatawan asing yang mengunjungi Lamongan biasanya akan mampir ke Masjid Agung Lamongan.

Banyak yang mampir ke masjid ini dikarenakan tempatnya yang strategis, yaitu bertempat di sebelah barat Alun-alun Lamongan.

Selain untuk beribadah, mereka biasa menikmati bangunan masjid yang terbilang antik tersebut. Masjid Agung Lamongan disebut-sebut sebagai masjid tertua di Lamongan.

Hal ini dibuktikan dengan bangunan ‘antik’ masjid yang dipertahankan meskipun sudah melalui banyak renovasi.

Masjid yang didirikan pada tahun 1908 silam tersebut memiliki bangunan yang unik, yaitu memiliki atap joglo yang berkerucut tiga susun, yang mana merupakan bangunan khas Jawa.

Renovasi yang dilakukan tidak merubah ciri khasnya, melainkan hanya melebarkan bagian samping kanan kiri dan menambah bagian depan masjid tersebut.

Selain bangunan luar, nilai-nilai antik juga terdapat di dalam Masjid Agung Lamongan. Bangunan dalam masjid masih mempertahankan penggunaan kayu jati sebagai tiang kokoh yang menopang bangunan tersebut.

Ukiran-ukiran kayu jati juga masih terdapat dan masih bisa memanjakan mata hingga saat ini.

Terdapat juga tangga yang digunakan untuk naik ke atap masjid yang digunakan untuk azan, mimbar yang masih terasa kesan khas Jawa nya, serta menara lama yang masih bertahan.

Selain bangunannya, masih ada budaya lain yang terdapat tepat di depan Masjid Agung Lamongan.

Terdapat benda bersejarah yang bernama Gentong dan Batu Pasujudan, peninggalan kisah Panji Laras dan Panji Liris. Peninggalan tersebut masih terawat rapi hingga sekarang.

Kedua benda itu ditempatkan tepat di depan Masjid Agung Lamongan, yang mana ceritanya sudah hampir diketahui oleh warga Lamongan.

Tujuan kedua benda itu masih bertahan yaitu supaya wisatawan maupun orang asli Lamongan bisa mengetahui saksi sejarahnya Lamongan.

 

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum

Penulis: Muhammad Abiel Mahasin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.