Mengenal Khulafaur Rasyidin, Para Pemimpin Islam Setelah Rasulullah SAW

oleh -3338 Dilihat
foto: freepik.com

MEMORANDUM – Khulafaur Rasyidin merupakan empat orang sahabat yang menjadi pemimpin semenjak wafatnya Rasulullah SAW.

Keberhasilan agama Islam yang bisa dilihat hingga saat ini tidak dapat dipisahkan dari peran Khulafaur Rasyidin.

Mereka merupakan para pemimpin yang tidak hanya melanjutkan perjuangan menyebarkan agama Islam, namun juga menjadi pemimpin yang memperluas wilayah Islam.

Masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin juga menjadi transisi penting di dalam sejarah Islam.

Hal ini disebabkan mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari banyaknya umat Muslim yang murtad dan kembali ke agama semula setelah wafatnya Rasulullah SAW, hingga memperluas wilayah hingga ke penjuru dunia.

Berikut ini adalah profil singkat dari masing-masing khalifah, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar Ash Shiddiq merupakan Khulafaur Rasyidin pertama tepat setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Abu Bakar dipilih oleh semua orang dikarenakan beliau merupakan sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW, sekaligus beliau menjadi mertua Rasulullah setelah putrinya yang bernama Aisyah menikah dengan Rasulullah.

Gelar Ash Shiddiq juga tidak semata-mata diberikan tanpa alasan, Ash Shiddiq berarti yang membenarkan diberikan karena beliau merupakan sosok yang selalu setia mendukung dakwah Rasulullah SAW.

Abu Bakar menjabat sebagai Khulafaur Rasyidin pertama selama 2 tahun, yakni sekitar tahun 632-634 M.

Beliau wafat pada tahun 634 M dan dimakamkan di sebelah makam Rasulullah SAW di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh sahabat Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab

Umar bin Khattab merupakan Khulafaur Rasyidin kedua, melanjutkan perjuangan Abu Bakar setelah beliau wafat.

Sebenarnya Umar sudah ditunjuk untuk menjadi penerus Rasulullah bahkan sebelum Abu Bakar, namun beliau menolak dan mempersilahkan Abu Bakar menjadi khalifah setelah Rasulullah.

Alasan Umar dipilih oleh umat Muslim pada saat itu dikarenakan Umar adalah sosok yang sangat terpandang dan dihormati bahkan sebelum beliau masuk Islam.

Umar bin Khattab menjabat sebagai Khulafaur Rasyidin kedua selama 10 tahun, yakni sekitar tahun 634-644 M.

Umar bin Khattab wafat pada tahun 644 M setelah dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah ketika sedang salat di Masjid Nabawi.

Jasad beliau dimakamkan di Madinah, tepat di sebelah makam Rasulullah dan Abu Bakar.

Utsman bin Affan

Utsman bin Affan merupakan Khulafaur Rasyidin ketiga, memimpin setelah wafatnya sahabat Umar bin Khattab.

Utsman menjadi sahabat yang ditunjuk pada saat itu dikarenakan beliau merupakan sosok yang sangat tulus dan selalu mendukung dakwah Rasulullah SAW.

Beliau juga dikenal sebagai sahabat yang sangat derwaman, melihat beliau berasal dari keluarga yang kaya raya.

Salah satu keberhasilan Utsman bin Affan dalam memimpin yang dapat kita rasakan hingga saat ini adalah keputusan mengkodifikasi Al Qur’an.

Khalifah Utsman memerintahkan untuk mengkodifikasi atau membukukan Al Qur’an menjadi satu mushaf.

Utsman bin Affan menjabat sebagai Khulafaur Rasyidin ketiga selama 12 tahun, yakni sekitar tahun 644-656 M.

Utsman bin Affan wafat pada tahun 656 M setelah dibunuh oleh beberapa pemberontak, diceritakan juga beliau dibunuh oleh penduduk Mesir.

Jasad beliau dimakamkan di Madinah, tepatnya di sebuah pemakaman yang bernama Jannatul Baqi’ di kota Madinah.

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib merupakan Khulafaur Rasyidin keempat, memimpin setelah wafatnya sahabat Utsman bin Affan.

Beliau menjadi sahabat yang ditunjuk sebagai pemimpin dikarenakan beliau merupakan sahabat yang termasuk sangat dekat dengan Rasulullah SAW.

Ali merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah, beliau juga menjadi orang pertama yang masuk Islam di kalangan anak kecil.

Sahabat Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai sosok yang cerdas, bahkan kecerdasannya sudah diakui sendiri oleh Rasulullah.

Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai Khulafaur Rasyidin keempat selama 5 tahun, yakni sekitar 656-661 M.

Jasad beliau dimakamkan di sebuah masjid yang bernama Masjid Imam Ali yang berletak di negara Irak.

 

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Abiel Mahasin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.