Pedagang Kelontong Wujudkan Mimpi Naik Haji Dengan Tabungan Harian Rp 20 Ribu di Kotak Kayu

oleh -1179 Dilihat
Sri Dewi Sudarwati (66), seorang jemaah haji kloter 5 asal Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kedir.

MEMORANDUM – Impian suci untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah adalah dambaan setiap muslim. Namun, mewujudkan cita-cita mulia ini seringkali membutuhkan perjuangan dan ketekunan yang luar biasa.

Kisah inspiratif datang dari Sri Dewi Sudarwati, seorang jemaah haji kloter 5 asal Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, yang berhasil mewujudkan mimpinya berkat kesabaran dan keistiqomahan menabung.

Nenek tujuh cucu ini dengan tekun menyisihkan Rp 20.000 setiap harinya dan menyimpannya dalam sebuah kotak kayu sederhana.

“Alhamdulillah, dari hasil menabung rutin sebesar Rp 20.000,- yang saya simpan dalam suatu kotak, saya dapat mendaftar haji pada tahun 2012 setelah terkumpul 25 juta,” ungkap Ibu Sri dengan penuh syukur.

Keinginan untuk menjejakkan kaki di tanah suci Makkah telah bersemi di hatinya sejak tahun 2009.

“Keinginan berhaji sebenarnya sudah lama cuma waktu itu keadaan ekonomi belum memungkinkan, anak-anak masih kecil,” kenangnya.

Namun, tekad yang kuat mendorongnya untuk memulai kebiasaan menabung setiap hari.
Uniknya, Ibu Sri memilih cara yang sederhana dalam menyimpan uangnya.

“Saya nabungnya di rumah saja, tidak ke bank. Saya ini orang desa. Tidak biasa ke bank. Saya simpan di kotak saja,” terangnya.

Kotak kayu menjadi saksi bisu ketekunannya mengumpulkan demi selangkah lebih dekat dengan Baitullah.

Setelah dana yang terkumpul dirasa cukup, Ibu Sri menggunakan seluruh tabungannya untuk mendaftar haji.

Kebahagiaan terpancar dari wajah wanita berusia 66 tahun ini karena akhirnya dapat berangkat haji tahun ini, meskipun tanpa didampingi suami tercinta yang telah lebih dulu berpulang.

“Suami saya sudah meninggal. Alhamdulillah beliau sudah haji. Kami daftarnya tidak bareng karena uang yang kami punya hanya cukup buat daftar satu orang. Jadi ya gantian,” tuturnya dengan nada haru.

Ibu Sri mengenang masa-masa sulit di awal pernikahan.”Suami dulu tukang tambal ban, sambil jualan bensin eceran, rumah belum punya, masih kontrak,” kenangnya.

Namun, berkat kegigihan dan keberkahan, mereka mampu bangkit.

“Alhamdulillah barokah. Dari situ, saya bisa mulai merintis jualan kecil-kecilan di rumah sendiri pada tahun 1995 dan sekarang warung saya lebih lengkap jualannya daripada dulu,” ujarnya dengan bangga.

Ia merasa sangat bahagia dan bersyukur karena usaha menabungnya yang dilakukan sedikit demi sedikit akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa, yaitu kesempatan untuk beribadah haji.

“Di tanah suci nanti saya akan berdoa semoga anak-anak saya, cucu-cucu juga dapat melaksanakan ibadah haji atau setidaknya bisa berumroh dulu,” harapnya tulus.

Kisah Ibu Sri Dewi Sudarwati menjadi bukti nyata bahwa dengan kesabaran, ketekunan, dan keyakinan yang kuat, impian setinggi apapun dapat diraih.

Pada hari Sabtu 3 Mei 2205, Ibu Sri dijadwalkan akan terbang ke Madinah pada pukul 14.20 WIB, memulai perjalanan spiritual yang telah lama diimpikannya.(*)

Penulis: Ali Muchtar


No More Posts Available.

No more pages to load.