Ramadan yang Melelahkan, Kisah Juru Masak di Tengah Lonjakan Reservasi Bukber

oleh -1261 Dilihat
foto: pinterest

MEMORANDUM – Bulan Ramadan menjadi berkah bagi banyak tempat makan. Reservasi untuk acara buka bersama (bukber) meningkat drastis, terutama di daerah yang ramai mahasiswa dan pekerja.

Pemilik hotel tentu senang melihat omzet melonjak. Namun, di balik hiruk-pikuk itu, ada cerita lain dari para juru masak yang harus bekerja lebih keras dari biasanya.

Seperti diungkapkan seorang juru masak di Surabaya, sebut saja namanya Juned. Saat ditemui, ia sudah bisa menebak bahwa bulan puasa tahun ini tak akan jauh berbeda dari tahun sebelumnya—melelahkan.

“Ramadan nanti nggak tahu ada waktu buat nongkrong atau nggak. Soalnya kalau Ramadan pasti capeknya dobel-dobel. Pulang kerja langsung tidur,” ungkapnya.

Memasak Ratusan Porsi Setiap Hari

Tantangan terbesar bagi Juned adalah harus memasak dalam jumlah besar setiap hari. Hotel tempatnya bekerja menawarkan paket bukber dengan harga spesial, menarik banyak pelanggan, terutama mahasiswa dan pekerja kantoran. Akibatnya, Bobon dan tim dapur harus memasak setidaknya 200 porsi per hari, hanya untuk reservasi bukber.

“Itu baru untuk bukber, belum pengunjung biasa. Makanya capeknya dobel-dobel,” keluhnya.

Bahkan sebelum Ramadan dimulai, Juned sudah pusing memikirkan menu apa yang akan dijadikan paket spesial. Meski ada batas maksimal reservasi per hari, pemilik hotel sering kali menambah jumlahnya demi keuntungan lebih besar.

THR Tak Seberapa, Cuti Lebaran Minim

Meski kerja keras selama Ramadan, Juned merasa jerih payahnya tak sebanding dengan tunjangan hari raya (THR) yang diberikan.

“Capeknya luar biasa, tapi THR-nya ya gitu-gitu aja,” katanya.

Lebih parah lagi, hotel tempatnya bekerja tidak memberikan libur di hari Lebaran. Restoran hotel terus beroperasi untuk melayani perantau yang tidak pulang kampung atau wisatawan yang menghabiskan liburan di Surabaya.

“Selama Ramadan sampai H-1 Lebaran aku masih masuk kerja, nggak ada libur. Edan kan?” ujarnya dengan nada kesal.

Karena itulah, Juned berencana untuk resign setelah Lebaran dan mencari tempat kerja yang lebih manusiawi.

Fenomena Bukber Hanya Demi Konten

Ada satu hal lagi yang membuat Juned kesal—banyak pelanggan yang menggelar bukber bukan karena benar-benar berpuasa, melainkan sekadar untuk konten media sosial.

“Bukber cuma buat kepentingan story, buat gaya-gayaan,” ucapnya.

Sebagai juru masak, Juned mengaku merasa lebih puas jika memasak untuk orang-orang yang memang benar-benar menjalankan puasa. Namun, ketika ia harus menyiapkan makanan untuk mereka yang tidak berpuasa tetapi tetap mengadakan bukber, kepuasan itu hilang—yang tersisa hanya rasa lelah.

Keluhan serupa juga dirasakan oleh rekan-rekannya di dapur. Ramadan bagi mereka bukan hanya soal kerja keras, tapi juga soal dilema dan apresiasi yang terasa kurang.

Artikel ini ditulis oleh Ahmad Rifqi Syihabuddin, Mahasiswa Magang di Memorandum 

 

 

Penulis: Ahmad Rifqi Syihabuddin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.