Sejarah Valentine’s Day dan Alasan Mengapa Islam Melarang Umatnya Merayakannya

oleh -1778 Dilihat

MEMORANDUM – Tanggal 14 Februari identik dengan Valentine’s Day atau perayaan hari kasih sayang. Perayaan ini dilakukan oleh hampir seluruh muda – mudi di dunia.

Namun tahukah kalian apa sebernarnya hari valentine itu? Berikut penjelasannya.

Valentine’s Day atau hari kasih sayang adalah sebuah perayaan yang awalnya dilakukan oleh bangsa nasrani di Roma sekitar abad ke-3.

Pada masa itu hidup seorang pastor yang disebut dengan Saint Valentine. Dia dianggap sebagai manusia suci oleh masyarakat Kristen yang menjadi pendeta di Terni.

Pada masa itu, Kaisar Claudius II melarang para pria muda untuk menikah dan lebih baik menjadi prajurit. Pada suatu hari, karena Saint Valentine tidak setuju dengan aturan tersebut, ia pun menikahkan para pasangan muda secara rahasia.

Namun pada suatu hari, Kaisar Claudius II mengetahui perbuatan Valentine dan menghukum mati dirinya pada tanggal 14 Februari 270 Masehi. Hari kematiannya kemudian dijadikan hari perayaan Valentine atau Vaentine’s Day disetiap tahun.

Hal ini menjelaskan bahwa tanggal 14 februari sebenarnya bukanlah semata – mata hari kasih sayang. Namun hari itu adalah hari perayaan umat kristiani untuk mengenang kematian Saint Valentine.

Kita sebagai umat muslim tidak diperbolehkan untuk merayakan Hari Valentine karena itu merupakan hari perayaan umat agama lain. Seperti yang tercantum dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (رواه أبو داود)

Artinya: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia menjadi bagian dari mereka” (HR. Abu Dawud).

Hadis tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa akan ada dampak serius bagi siapapun yang ikut merayakan perayaan umat agama lain, yaitu dianggap sebagai salah satu dari golongan yang mereka tiru.

Hal ini menggambarkan seakan – akan kita keluar dari agama islam atau murtad. Murtad adalah seburuk – buruknya perilaku umat muslim yang dosanya tidak akan diampuni oleh Allah SWT sampai ia benar benar bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.

Selain itu, dalam islam tidak ada waktu tertentu untuk mengutarakan rasa cinta dan kasih sayang. Kalian bisa mengutarakan perasaan tersebut pada siapaun, kapanpun dan dimanapun asalkan tidak melanggar syariat islam.

Oleh karena itu, lakukan segala sesuatu itu menurut apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan jauhi apa – apa yang dilarang oleh-Nya.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Akmal Haidar – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Akmal Haidar
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.