MEMORANDUM – Apakah kalian tahu jika Abu Nawas dan Imam Syafi’i hidup satu zaman?
Abu Nawas memang hidup satu zaman dengan Imam Syafi’i, tetapi beliau-beliau ini menempuh jalan hidup yang berbeda.
Meskipun Abu Nawas adalah seorang sufi, tetapi beliau lebih dikenal sebagai seorang pujangga hedon yang gemar mabuk-mabukan.
Sedangkan Imam Syafi’i adalah seorang ulama besar dan terkenal di zaman itu.
Sungguh dua kubu yang sangat berbeda.
Sampai pada akhir hidup Abu Nawas, diceritakan Imam Syafi’i tidak mau ketika disuruh datang untuk mensalatkan.
Imam Syafi’i enggan melakukan itu karena tahu bahwa Abu Nawas semasa hidup bukanlah seorang yang alim, melainkan orang yang gemar mabuk-mabukan.
Namun ada suatu momen yang mengubah Imam Syafi’i pada masa itu sehingga beliau mau datang dan mengurusi jenazah Abu Nawas.
Ada seseorang yang menemukan suatu Syiir di bawah bantal tempat tidur Abu Nawas, Syiir itu sungguh menakjubkan dan membuat semua orang takjub, termasuk Imam Syafi’i.
Syiir itu adalah Syiir Al I’tiraf hasil karya Abu Nawas yang terkenal hingga saat ini, dan masih sering dilantunkan oleh masyarakat di Indonesia.
Syiir Al I’tiraf disebut juga dengan Syiir untuk merayu Tuhan, dikarenakan liriknya yang berisi tentang dirinya yang tidak pantas masuk surga, tetapi tidak mau masuk neraka.
Lirik dan terjemahan Syiir Al I’tiraf atau Syiir Abu Nawas
إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً – وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
Ilhaahii lastu lil Firdausi ahlaan – Wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Artinya: “Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli surga Firdaus, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim.”
فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ – فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ العَظِيْم
Fa hablii taubatan wagjfir dzunuubii – Fa innaka ghaafirudzdzambil ‘adziimi
Artinya: “Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku – sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar.”
ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ – فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ
Dzunubii mitslu a’daadir rimaali – Fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Artinya: “Dosaku bagaikan bilangan pasir di lautan – maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.”
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ – وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi – Wa dzambi zaa idun kaifah timaali
Artinya: “Umurku ini setiap hari berkurang, sedang doasku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya?”
إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ – مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Ilaahi ‘abdukal ‘aashi ataaka – Muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka
Artinya: “Wahai Tuhanku, hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.”
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ – فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun – Fa in tahtrud faman narjuu siwaaka
Artinya: “Maka jika Engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?”
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum






