Memorandum – Jutaan jemaah haji dari seluruh dunia setiap tahunnya melaksanakan salah satu rukun penting dalam ibadah haji: lempar jumrah.
Ritual simbolis ini, yang merupakan representasi perlawanan terhadap bisikan jahat setan, menggunakan kerikil sebagai medianya.
Namun, pernahkah terlintas di benak kita, ke mana perginya jutaan kerikil tersebut setelah digunakan oleh para jemaah?
Sayyid Sabiq melalui Fiqh As-Sunnah yang diterjemahkan Khairul Amru Harahap dkk menjelaskan mayoritas ulama berpendapat lempar jumrah adalah wajib haji, bukan termasuk rukun.
Artinya, jika seorang jemaah tidak melaksanakannya, hajinya tetap sah namun wajib membayar dam (denda).
Ada tiga lokasi jumrah yang harus dikenal jemaah: jumrah sughra (ula), wustha, dan aqabah. Setiap lemparan harus diniatkan dan kerikil harus masuk ke dalam lubang marma (objek jumrah).
Waktu pelaksanaan lempar jumrah berlangsung dari tanggal 10 hingga 13 Zulhijah. Mengingat jumlah jemaah haji yang mencapai jutaan setiap tahunnya, bisa dibayangkan berapa banyak kerikil yang digunakan.
Lalu, ke mana sebenarnya kerikil-kerikil ini menghilang?
Menurut laporan Arab News yang dikutip pada Sabtu 7 Juli 2025, kerikil-kerikil yang dilemparkan oleh jemaah tidak berserakan di permukaan.
Sebaliknya, mereka jatuh ke ruang bawah tanah di fasilitas jamarat, dengan kedalaman mencapai 15 meter.
Ahmed Al Subhi, seorang karyawan dari Kidana Development Company, pengembang utama tempat-tempat suci, menjelaskan proses selanjutnya.
Kerikil-kerikil yang mengendap di kedalaman tersebut kemudian dikumpulkan menggunakan sabuk pengangkut khusus.
Setelah terkumpul, kerikil-kerikil itu akan melalui proses penyaringan dan penyemprotan air untuk membersihkan kotoran yang menempel.
Setelah bersih, kerikil-kerikil tersebut akan dipindahkan ke kendaraan khusus dan disimpan untuk musim haji selanjutnya.
Pengembang di tempat-tempat suci ini memang telah menyiapkan persediaan kantong-kantong kerikil dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan jemaah.
Tak hanya itu, sekitar 300 titik kontak juga tersedia bagi jemaah di Muzdalifah, selain fasilitas Jembatan Jamarat di Mina, untuk mendapatkan kerikil.
Pelaksanaan lempar jumrah ini adalah bagian dari peringatan atas keteguhan Nabi Ibrahim AS yang menolak bujukan setan agar tidak tunduk pada perintah Allah SWT.
Proses pengelolaan kerikil ini menunjukkan betapa terorganisirnya setiap aspek ibadah haji untuk kenyamanan dan kelancaran jemaah.(*)








