MEMORANDUM – Setiap manusia yang hidup di dunia, umumnya akan menikah meskipun tidak semuanya.
Dan tentunya setiap pasangan yang sudah menikah pastinya menginginkan rumah tangga yang harmonis, penuh kebahagiaan, dan juga keberkahan.
Namun kenyataannya, kehidupan setelah berumah tangga tidak selalu berjalan mulus, ada kalanya suami istri akan menghadapi tantangan.
Ada kalanya suami istri akan menghadapi tantangan seperti perbedaan pendapat, ujian dalam hal ekonomi, dan persoalan komunikasi.
Membangun Rumah Tangga Harmonis Seperti Rasulullah SAW
Islam sudah memberikan solusi untuk menghadapi itu semua, Rasulullah SAW adalah contoh nyata untuk dijadikan teladan, termasuk dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Rasulullah merupakan suami yang baik bagi istri-istrinya, beliau bisa bersikap adil dan mampu membuat semuanya senang berkat kemesraan dan keromantisan beliau.
Berikut adalah beberapa bentuk keromantisan Rasulullah SAW dalam rumah tangga yang mungkin bisa ditiru.
- Mencium Istri
Mencium pasangan kita yang sudah halal ternyata sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya dulu.
Hal ini bisa terbukti dari adanya hadis nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.
إن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا قبل بعض نسائه مص لسانها
Artinya: “Sungguh Nabi SAW ketika mencium salah satu istrinya, beliau mengecup lidahnya.” (HR. Maqdisi).
- Tidur di Pangkuan Istri
Rasulullah SAW juga pernah melakukan hal seperti ini, tidur atau rebahan di atas pangkuan sang istri.
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ رَأْسَهُ فِي حِجْرِي فَيَقْرَأُ وَأَنَا حَائِضٌ
Artinya: “Dahulu Rasulullah SAW meletakkan kepalanya di pangkuanku kemudian membaca (Al Qur’an), sedangkan aku dalam keadaan haid.” (HR. Abu Dawud).
- Membelai Istri
Ternyata, membelai istri juga termasuk tindakan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Hal ini terbukti dengan adanya sebuah hadis nabi yang diriwayatkan oleh Urwah bin Zubair, yang diriwayatkan dari Aisyah RA.
قلما كان يوم – أو قالت قل يوم – إلا كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يدخل على نسائه فيدنو من كل امرأة منهن فى مجلسه فيقبل ويمس من غير مسيس ولا مباشرة » قالت « ثم يبيت عند التى هو يومها
Artinya: “Hampir setiap hari Rasulullah SAW mengunjungi semua istrinya, lantas mendekatinya satu persatu di rumahnya. Kemudian Rasulullah SAW mencium dan membelainya tanpa bersetubuh atau berpelukan. Aisyah menambahkan: Lantas beliau menginap di rumah istri yang mendapat gilirannya.” (HR. Ahmad).
- Memanggil dengan Panggilan Khusus
Memanggil panggilan khusus seperti panggilan yang romantic merupakan tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW mempunyai panggilan khusus untuk Aisyah RA dengan panggilan kecil seperti (حميراء) yang artinya putih kemerah-merahan.
Hal ini sesuai dengan hadis nabi yang pernah diriwayatkan, yaitu.
كان يقول لها أحيانا يا حُمَيْراء تَصْغير الحَمْراء يريد البَيْضاء
Artinya: “Beliau (Rasulullah SAW) sering memanggil istrinya (Aisyah) dengan sebutan ‘Ya Humaira’ yang merupakan bentuk panggilan kecil dari ‘Hamra’ (merah), sedangkan yang dimaksut adalah putih”.
- Mengantar Istri ketika Hendak Pergi
Rasulullah SAW juga diceritakan pernah mengantar istrinya sebagai bentuk rasa sayang kepada istrinya.
Hal ini tertulis di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Husein RA.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ وَعِنْدَهُ أَزْوَاجُهُ فَرُحْنَ فَقَالَ لِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ لَا تَعْجَلِي حَتَّى أَنْصَرِفَ مَعَكِ
Artinya: “Suatu ketika Nabi SAW berada di masjid (Nabawi), sedangkan istri-istrinya ada di dekatnya kemudian mereka pulang. Rasulullah SAW bersabda kepada Shafiyah binti Huyay: Jangan buru-buru agar aku bisa pulang bersamamu.” (HR. Bukhari).
- Mengajak Istri Makan di Luar
Menurut sutau riwayat, diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah mengajak salah satu istrinya yang bernama Aisyah untuk pergi makan di luar.
Hal ini tertulis di dalam sebuah hadis nabi yang diriwayatkan oleh sahabat Anas RA.
أن رجلا فارسيا كان جارا للنبي صلى الله عليه وسلم وكانت مرقته أطيب شي ريحا فصنع طعاما ثم أتى النبي صلى الله عليه وسلم فأومأ إليه أن تعال وعائشة جنبه فقال صلى الله عليه وسلم: “وهذه معي” وأشار إلى عائشة فقال لا قال ثم أشار إليه فقال: “وهذه معي” قال لا ثم أشار إليه الثالثة فقال وهذه معي وأشار إلى عائشة فقال نعم
Artinya: “Seorang lelaki Persia yang merupakan tetangga Nabi SAW memiliki kuah kaldu yang sangat lezat. Suatu hari, ia memasak makanan dan datang mengundang Nabi SAW untuk makan. Saat itu, Aisyah berada di samping Nabi. Kemudian, Nabi SAW bertanya kepadanya, “Bagaimana dengan yang ini?” seraya menunjuk Aisyah. Lelaki itu menjawab, “Tidak.” Nabi kembali memberi isyarat kepadanya dan bertanya, “Bagaimana dengan yang ini?” Lelaki itu tetap menjawab, “Tidak.” Untuk ketiga kalinya, Nabi memberi isyarat dan bersabda, “Apakah ini boleh bersamaku?” Barulah lelaki itu menjawab iya.” (HR. Ibnu Hibban).
- Membujuk Istri ketika Sedang Emosi
Diceritakan bahwa Aisyah RA seringkali ngambek dan marah kepada Rasulullah SAW, hal ini mungkin saja terjadi dikarenakan Aisyah yang umurnya masih sangat muda.
Dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW menenangkan Aisyah RA yang sedang marah dengan cara yang unik.
كان إذا غضبت عائشة عرك النبي صلى الله عليه وسلم بأنفها وقال : يا عويش قولي : اللهم رب محمد اغفر لي ذنبي ، وأذهب غيظ قلبي ، وأجرني من مضلات الفتن
Artinya: “Ketika Aisyah marah, maka Nabi SAW mencubit hidungnya dan bersabda, “Wahai ‘Uwaisy, katakanlah ‘Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkan aku dari firnah yang menyesatkan”.
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum








