FOMO dan Gaya Hidup Konsumtif, Ancaman bagi Remaja di Era Modern

oleh -1913 Dilihat
canva

MEMORANDUM – Remaja merupakan masa transisi antara anak – anak menuju dewasa yang menyebabkan berubahnya fisik dan psikologi seseorang. Remaja sering kali tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah karena sifatnya yang masih labil.

Di era modern ini para remaja sangat tidak ingin ketinggalan momen. Mereka selalu memaksakan keinginan mereka tanpa menghiraukan kondisi ekonomi mereka.

Fenomena yang sering dialami oleh para remaja ini disebut dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau perasaan cemas ketinggalan tren terkini atau kesempatan yang sedang populer. Para remaja ini merasa takut akan dicap tidak gaul dan ketinggalan zaman oleh teman – teman sebayanya.

Contoh yang viral pada tahun 2024 silam yaitu Boneka Labubu. Banyak remaja yang berlomba – lomba untuk mendapatkan boneka dengan ekpresi ceria dan berpenampilan unik dengan beberapa fitur tajam di tubuhnya itu. Mereka sampai rela antri selama berjam – jam hanya demi mendapatkan satu buah boneka yang dibanderol dengan harga sekitar 400 ribuan/pack.

Selain itu, tren nongkrong di kafe dan restoran mahal juga menjadi incaran para remaja zaman sekarang. Tidak sedikit remaja yang bergantung pada uang orang tua mereka atau bahkan sampai berhutang hanya karena takut tidak dapat mengikuti tren terbaru.

Gaya hidup yang seperti ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:

1. Tekanan Media Sosial
Banyaknya konten di media sosial yang menunjukkan gaya hidup mewah, membuat para remaja menjadi FOMO.

2. Tingginya Standar Sosial
Barang yang digunakan oleh seseorang saat ini dapat mencerminkan status sosial mereka. Barang – barang mewah dan mahal menjadi standar bagi para remaja yang masih labil agar bisa “setara” dengan rekan sebayanya.

3. Peningkatan Budaya Konsumtif
Sistem transaksi buy now, pay later serta banyaknya diskon dan promo membuat seseorang secara impulsif berbelanja barang yang sebenarnya tidak mereka dibutuhkan.

Gaya hidup konsumtif yang lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan ini sangat bertentangan dengan konsep kesederhanaan dalam islam.

Terdapat beberapa dalil Al-Qur’an yang melarang perilaku konsumtif seperti pada surah Al-Isra’ ayat 26-27 yang artinya “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur – hamburkan (hartamu) secara boros” “Sesungguhnya orang – orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Dalil lain yang melarang perilaku konsumtif dan hal yang lebih dari sewajarnya adalah surah Al-Furqan ayat 67 dan surah Al-A’raf ayat 31.

Selain dilarang dalam agama islam, perilaku konsumtif ini juga dapat merusak kondisi ekonomi seseorang. Untuk mengatasi masalah ini, dapat dimulai dengan mengelola keuangan, memahami emosi dan membuang gengsi, memperhatikan keadaan ekonomi diri sendiri dan keluarga serta memprioritaskan kebutuhan yang lebih penting terlebih dahulu.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Akmal Haidar – mahasiswa magang di Memorandum

Penulis: Muhammad Akmal Haidar
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.