Jangan Kalap Saat Berbuka, Ikuti Sunnah dan Jaga Kesehatan Pencernaan

oleh -1187 Dilihat
foto: freepik.com

MEMORANDUM –  Azan maghrib menjadi momen yang paling ditunggu bagi setiap Muslim di bulan suci Ramadan ini.

Bagaimana tidak, setelah seharian menahan lapar dan dahaga, setelah membeli takjil untuk persiapan berbuka, sudah sepatutnya banyak orang yang antusias menunggu azan maghrib.

Biasanya, sebagian orang sudah bersiap di meja makan bersama keluarganya karena tidak sabar menunggu supaya bisa makan ataupun minum.

Tangan sudah bersiap akan mengambil minuman dan juga makanan yang sudah dihidangkan di meja makan, terutama takjil berupa gorengan atau minuman manis.

Namun, ada salah satu momen dimana sebagian orang terlalu kalap dan akhirnya menyantap semua yang dilihat matanya.

Makan dan minum dengan terburu-buru dan dengan jumlah besar ketika berbuka puasa, perbuatan seperti ini yang sebenarnya kurang baik.

Meskipun Rasulullah SAW menyuruh umatnya untuk menyegerakan berbuka puasa, seperti yang tertulis di dalam sebuah hadis.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَأَحَدُكُمْ صَائِمٌ، فَلْيَبْدَأْ بِالْعَشَاءِ قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: apabila iqamah dikumandangkan, sedangkan seseorang dari kalian berpuasa, maka makanlah terlebih dahulu sebelum salat maghrib, dan jangan terburu-buru ketika sedang makan.” (Sahih Ibnu Hibban).

Rasulullah SAW menyuruh kita untuk makan terlebih dahulu sebelum salat, akan tetapi harus tetap ada batasan dan aturannya.

Lalu bagaimana cara berbuka yang lebih baik?

Berbuka dengan nyaman

Berbuka dengan tenang dan tidak terburu-buru memiliki banyak manfaat, baik dari segi spiritual maupun kesehatan.

Berbuka puasa yang baik yaitu dengan menkonsumsi makanan dan minuman yang ringan terlebih dahulu, seperti memakan kurma dan minum air putih.

Bahkan cara berbuka seperti ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang tertulis di dalam sebuah hadis.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Artinya: “Dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi SAW biasa berbuka puasa sebelum salat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr beliau meminum seteguk air.” (HR. Abu Dawud).

Maka dari itu, sebelum memakan makanan yang berat seperti menu utama, kita sebaiknya memakan makanan yang ringan dulu seperti kurma atau takjil yang lain, kemudian mengerjakan salat maghrib terlebih dahulu, setelah itu baru memakan makanan yang berat.

Secara kesehatan, makan dalam porsi banyak dan terburu-buru juga kurang baik.

Hal ini disebabkan karena perut kita sudah kosong selama 12 jam, dan apabila langsung diisi dengan makanan berat dan dalam jumlah besar, dikhawatirkan perut kita akan ‘kaget’ dan berakhir sakit perut.

Salah satu dampak buruk lain dari makan terburu-buru dan dalam jumlah besar adalah risiko gangguan pencernaan.

Hal ini bisa terjadi jika seseorang memakan makanan berat dalam jumlah yang banyak, sedangkan kondisi perutnya kosong.

Perut yang kosong tersebut akan mengalami tekanan secara tiba-tiba akibat jumlah makanan besar yang masuk.

Menyegerakan berbuka memang dianjurkan, namun tetap perlu memperhatikan keseimbangan dan tidak terburu-buru.

Dengan demikian, berbuka puasa tidak hanya menjadi ibadah yang berkah, tetapi juga memberikan manfaat bagi tubuh kita.

 

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Abiel Mahasin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.