MEMORANDUM – Abu Nawas, seorang pria yang terkenal di dalam literatur legendaris Timur Tengah.
Namanya sering terdengar hingga saat ini, namanya terdapat pada kisah-kisah seperti Cerita 1001 Malam dan kisah-kisah lainnya.
Di dalam cerita tersebut Abu Nawas dikisahkan sebagai seorang yang cerdas, jenius, dan seringkali keluar dari suatu masalah yang sulit.
Siapakah sosok sebenarnya Abu Nawas?
Profil Abu Nawas
Abu Nawas atau Abu Nuwas memiliki nama asli Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami, lahir pada tahun 757-758 M di Persia.
Beliau hidup pada masa Dinasti Abbasiyah, tepatnya pada masa kepemimpinan Sultan Harun Al Rasyid.
Diceritakan pada masa kecilnya beliau menjalani pendidikan agama yang sangat baik, sehingga telah menghafal Al Qur’an sejak usia dini.
Tetapi saat beliau tumbuh dewasa, bukannya menjadi Muslim yang taat, justru Abu Nawas menjadi seorang pria yang gemar mabuk-mabukan.
Masa hidup Abu Nawas
Abu Nawas menjadi seorang pujangga atau ahli sastra yang hedon dan gemar mabuk-mabukan, sehingga bisa dibilang beliau jauh dari agama.
Meskipun begitu, sastra karya Abu Nawas sudah diakui oleh semua orang seantero Kekhalifahan Abbasiyah.
Karya sastra Abu Nawas berbentuk puisi atau yang lain tidak seperti karya-karya sastra pada saat itu.
Disaat orang-orang membuat sastra dengan tema padang pasir, Abu Nawas membuat karya yang beda.
Abu Nawas membuat karya sastra yang unik dan berbeda dari yang lain, kemudian dikemas dengan bahasa yang jenaka da sangat lucu, sehingga terkenal dan disukai oleh masyarakat.
Sebagai seorang pujangga atau sastrawan, Abu Nawas juga membutuhkan inspirasi untuk karya sastranya.
Abu Nawas biasanya pergi ke kedai minum atau bar Yahudi dan Kristen di kota-kota lain, sehingga banyak juga karya-karya Abu Nawas bertemakan anggur dan cinta, yakni sesuatu yang berbau dengan seks.
Diceritakan juga dikarenakan Abu Nawas sangat terkenal sebagai seorang pujangga dengan karya-karyanya yang bagus, Abu Nawas diangkat oleh Sultan Harun Al Rasyid sebagai penyair di istana.
Akan tetapi dikarenakan karya buatannya yang lucu, sehingga tak jarang ada orang yang tersinggung atas sastra buatan Abu Nawas.
Sampai-sampai suatu ketika Khalifah Sultan Harun Al Rasyid, sultan atau pemimpin pada saat itu tersinggung sebab karya sastra Abu Nawas yang terkesan menyinggung.
Sultan Harun Al Rasyid pun marah dan Abu Nawas pun dijebloskan ke dalam penjara akibat karya sastra buatannya.
Di dalam penjara, Abu Nawas menjadi seorang yang lebih religius, dan membuat karya-karya yang lebih banyak bertemakan tentang agama dan pasrah kepada Allah SWT.
Akhir hidup Abu Nawas
Abu Nawas meninggal sekitar tahun 814-816 M.
Ada banyak versi atau riwayat tentang penyebab kematian Abu Nawas.
Ada yang mengatakan Abu Nawas meninggal karena sakit, ada yang mengatakan Abu Nawas diracun oleh seseorang, dan juga ada yang mengatakan bahwa Abu Nawas meninggal sebab dipukuli oleh keluarga bangsawan.
Abu Nawas dimakamkan di pemakaman Shunizi di Baghdad, Iraq.
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum







