MEMORANDUM – Bencana alam merupakan fenomena alam yang terjadi di alam sekitar dan umumnya merugikan masyarakat.
Kita sebagai Muslim yang hidup di Indonesia tentunya mengetahui kalau negara kita ini rawan akan bencana alam.
Indonesia menjadi negara yang rawan bencana disebabkan karena letak geografisnya yang berada di pertemuan lempeng tektonik.
Selain itu juga terdapat banyak sekali gunung berapi aktif yang bisa meletus kapanpun sesuai kehendak Allah SWT.
Tentu saja Allah memberikan ujian-ujian tersebut kepada hamba-Nya dengan alasan tertentu.
Sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam Al Qur’an:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al Ambiya’: 35).
Allah ingin menguji sebesar apa tingkat keimanan kita, bagaimana kita menghadapi ujian-ujian yang Allah berikan.
Lalu bagaimana cara kita menghadapi dan menyikapi bencana alam yang diberikan Allah kepada kita sebagai seorang Muslim?
- Tabah menerima keadaan
Kita sebagai Muslim harus mengetahui dan percaya kalau segala sesuatu yang terjadi memiliki maksut tersendiri.
Allah memberikan bencana alam pun berdasarkan dengan hukum, aturan, ukuran masing-masing, bukan tiba-tiba terjadi.
Semua yang terjadi merupakan bentuk ketaatan dan kepatuhan dunia pada Allah SWT, semuanya terjadi karena aturan Allah yang tidak bisa dipahami oleh manusia.
Kita sebagai umat Muslim harus tabah dan ikhlas menerima segala ujian yang diberikan dan yakin Allah juga akan memberikan jalan keluarnya.
- Evaluasi diri
Seorang Muslim juga harus memahami kalau bencana alam yang diberikan Allah adalah alat untuk instropeksi.
Kita harus instropeksi, mengevaluasi, atau muhasabah diri kita, apa yang sudah manusia lakukan sampai bisa terjadi bencana alam.
Dikarenakan bencana terlahir dari bentuk kelalaian dan kezaliman manusia terhadap manusia lain ataupun kepada lingkungan.
Sebagaimana yang tertulis di dalam Al Qur’an:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum: 41).
- Peduli terhadap sesama
Seorang Muslim dengan Muslim yang lain adalah saudara, maka dari itu kita harus membantu orang lain.
Jika kita melihat saudara kita yang terkena bencana alam, hendaknya kita membantu mereka.
Kita bisa membantunya dalam bentuk harta, tenaga, dukungan, bahkan doa untuk mereka.
Seperti yang terjadi ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, yang membantu mereka adalah kaum Anshar.
Sebagai sesama Muslim, kaum Anshar membantu penuh kaum Muhajirin, seperti memberikan tempat tinggal, makanan, dan lain lain.
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum







