Megengan, Warisan Budaya Islam-Jawa yang Masih Bertahan

oleh -1458 Dilihat
foto: freepik.com

MEMORANDUM – Megengan merupakan salah satu tradisi unik yang masih bertahan di pulau Jawa hingga zaman sekarang.

Megengan adalah tradisi khas yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Islam untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun dari zaman dulu setiap datangnya bulan suci Ramadan.

Acara megengan mirip dengan acara selametan lainnya, yaitu identic dengan acara kenduri yang dihadiri oleh keluarga maupumn tetangga.

Acara ini bukan hanya berisi kenduri atau makan-makan, akan tetapi ada acara lainnya seperti tahlilan, membaca zikir, dan berdoa bersama kemudian diakhiri dengan makan.

Sejarah Megengan

Megengan berasal dari bahasa Jawa yang diartikan sebagai “menahan” atau “mengendalikan diri” yang mencerminkan makna puasa di bulan Ramadan.

Tradisi megengan diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan dulu, tepatnya di kerajaan Demak pada abad ke-15.

Walisongo juga diperkirakan ikut andil dalam mengenalkan tradisi megengan ini.

Megengan menjadi momen bagi masyarakat untuk mengingat pentingnya persiapan spiritual dan mental sebelum menjalankan ibadah puasa.

Pada masa lalu, walisongo menggunakan megengan sebagai sarana menyebarkan agama Islam dengan pendeketan budaya.

Dengan itu, masyarakat yang mayoritas beragama Hindu Budha akan lebih mudah menerima ajaran-ajaran yang dikenalkan oleh Walisongo.

Megengan menurut Islam

Mungkin ada beberapa pendapat yang masih ragu bahkan mungkin tidak setuju dengan adanya tradisi megengan.

Lantaran Allah SWT dan juga Nabi SAW tidak ada memberikan perintah untuk melakukan acara seperti megengan.

Memang benar jika megengan tidak pernah disebutkan di dalam Al Qur’an dan Hadis, jadi megengan bukanlah ajaran asli agama Islam.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, megengan merupakan tradisi dari pulau Jawa yang kemudian diadaptasi dengan agama Islam.

Akan tetapi, ada sebuah hadis yang menjadi acuan mengapa tradisi megengan masih bertahan hingga saat ini.

وَقَدْ كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ كَمَا أَخْرَجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَفْظُهُ لَهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ بِقَوْلِ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كُتِبَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حَرُمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حَرُمَ الخَيْرَ الكَثِيْرَ

Artinya: “Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangan bulan Ramadhan sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan An-Nasai dari Abu Hurairah RA. Ia menceritakan bahwa Rasulullah memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan dengan sabdanya: Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh berkah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka jahim ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak.”

Hadis tersebut menjalaskan bahwa boleh saja bagi masyarakat untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Megengan digelar dengan alasan sebagai bentuk mengekspresikan kegembiraan masyarakat karena kedatangan bulan suci Ramadan.

 

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Abiel Mahasin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.