Mengenal Dzulqarnain, Raja Bijaksana yang Disebut dalam Surah Al-Kahfi

oleh -1613 Dilihat
foto: freepik.com

MEMORANDUM – Al Qur’an berisi tentang berbagai ajaran, petunjuk, dan hukum yang menjadi pedomat bagi umat Muslim. Namun, apakah kalian sadar kalau sebagian besar Al Qur’an berisi kisah-kisah tentang umat-umat terdahulu?

Al Qur’an menceritakan tentang perjalanan hidup, perjuangan, serta pengalaman yang sudah dialami oleh umat-umat sebelum kita.

Sebagian isinya juga mencakup kisah seorang hamba yang saleh di masa lalu, yang karena kesalehannya begitu luar biasa, Allah SWT mengabadikannya di dalam Al Qur’an sebagai teladan bagi umat Muslim.

Salah satu kisah orang saleh di masa lalu yang kisah hidupnya diabadikan di dalam Al Qur’an adalah Dzulqarnain.

Rangkaian kisah Dzulqarnain ini tertulis di dalam Al Qur’an, tepatnya di surah Al Kahfi ayat 83-101.

Siapa sebenarnya sosok Dzulqarnain, bagaimana kisahnya semasa hidup, sampai kisahnya bisa Allah sebut di dalam firman-Nya yang sekarang tertulis rapi di dalam Al Qur’an.

Siapa itu Dzulqarnain

Memiliki nama asli yaitu Iskandar, sedangkan Dzulqarnain merupakan sebuah julukan yang berarti “pemilik dua tanduk”.

Sebagian orang juga menyebut Iskandar Dzulqarnain dengan sebutan Aleksander Agung atau Alexander the Great.

Diceritakan bahwa Dzulqarnain adalah seorang pemimpin atau seorang raja yang luar biasa.

Dzulqarnain terkenal dengan sosok seorang raja atau pemimpin yang memiliki kekuatan, keadilan, dan kebijaksanaan dalam memerintah.

Sesuai dengan apa yang sudah tertulis di dalam Al Qur’an, yaitu:

اِنَّا مَكَّنَّا لَهٗ فِى الْاَرْضِ وَاٰتَيْنٰهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًاۙ ۝٨٤

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu.” (QS. Al Kahfi: 84).

Al Qur’an juga mencatat bahwa Dzulqarnain pernah melakukan berbagai perjalanan penting semasa hidupnya.

Kisah yang paling disorot adalah Dzulqarnain pernah menaklukkan Timur dan Barat, tempat matahari terbit dan terbenam.

Perjalanan ke Barat

Dzulqarnain pernah melakukan sebuah perjalanan ke arah barat, hingga ia mencapai titik dimana matahari terbenam.

Diceritakan tempat matahari terbenam adalah tempat yang gelap, berisi laut atau danau yang hitam, begitu juga dengan penduduknya, yang mana dikatakan terdapat sebuah kaum yang tidak beragama.

Dzulqarnain pun harus dihadapkan pada pilihan untuk memberi kaum itu sebuah petunjuk kebenaran atau harus menghukum mereka.

حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِيْ عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَّوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ەۗ قُلْنَا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِمَّآ اَنْ تُعَذِّبَ وَاِمَّآ اَنْ تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا ۝٨٦

Artinya: “Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, ia melihat (matahari) terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam. Dan di sana ia menemukan suatu kaum (yang tidak beragama). Kami berfirman: Wahai Dzulqarnain, engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan (mengajak beriman) kepada mereka.” (QS. Al Kahfi: 86).

Perjalanan ke Timur

Setelah menyelesaikan perjalanannya ke arah barat, Dzulqarnain kemudian melanjutkan perjalanannya menuju arah timur dan sampai di titik di mana tempat matahari terbit.

Di sana Dzulqarnain menemukan sebuah kaum yang hidup dalam kondisi yang sulit, yaitu tidak memiliki perlindungan dari matahari.

Tidak ada gunung, pepohonan, atau bangunan yang bisa melindungi dari sinar matahari di tempat kaum tersebut tinggal.

حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلٰى قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَلْ لَّهُمْ مِّنْ دُوْنِهَا سِتْرًاۙ ۝٩٠

Artinya: “Hingga ketika ia sampai di tempat terbitnya matahari (arah timur), ia mendapati (matahari) bersinar di atas suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya) matahari itu.” (QS. Al Kahfi: 90).

Membangun Dinding untuk Ya’juj Ma’juj

Setelah itu, Dzulqarnain melanjutkan perjalanannya ke arah lain dan sampai di sebuah wilayah yang terletak di antara dua gunung yang tinggi dan kokoh.

حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًاۙ لَّا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا ۝٩٣

Artinya: “Hingga ketika sampai di antara dua gunung, dia mendapati di balik keduanya (kedua gunung itu) terdapat suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.” (QS. Al Kahfi: 93).

Di wilayah tersebut terdapat sebuah kaum yang memiliki keterbatasan dalam berbicara atau komunikasi, namun mereka meminta tolong kepada Dzulqarnain.

Kaum tersebut sedang menghadapi sebuah masalah serius dan sedang dilanda ketakutan, mereka takut akan Ya’juj Ma’juj.

Diceritakan Ya’juj dan Ma’juj adalah sebuah kelompok atau golongan yang mengerikan, suka berbuat kerusakan di muka bumi dan menimbulkan kekacauan di mana pun mereka berada.

Akhirnya Dzulqarnain membangun sebuah dinding penghalang yang dapat melindungi mereka dari ancaman Ya’juj Ma’juj.

Tembok tersebut terbukti kuat dan berhasil menahan Ya’juj Ma’juj.

Namun, tembok tersebut akan hancur ketika Allah sudah berkehendak, yaitu akan hancur pada hari kiamat kelak.

Kisah tentang Dzulqarnain yang membangun tembok ini bisa kita temukan di dalam Al Qur’an Surah Al Kahfi ayat 93-101.

 

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Abiel Mahasin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.