MEMORANDUM – Pernahkah kalian membaca atau mendengar kisah Nabi Khidir? Di dalam sejarah Islam, terdapat beberapa tokoh yang namanya masih dikenal oleh banyak orang hingga saat ini.
Salah satu dari banyaknya orang yang ada di dalam sejarah Islam adalah Nabi Khidir, sosok seorang nabi yang masih misterius.
Nabi Khidir terkenal sebagai sosok yang sangat cerdas, bahkan diceritakan pengetahuannya tidak bisa dipahami oleh kebanyakan manusia.
Siapakah sosok sebenarnya Nabi Khidir ini, lalu ilmu seperti apa yang sebenarnya ia miliki?
Mengenal Sosok Nabi Khidir
Nabi Khidir merupakan salah satu nabi utusan Allah SWT yang kisahnya tertulis di dalam ayat-ayat Al Qur’an.
Meskipun namanya tidak secara eksplisit disebutkan di dalam Al Qur’an, para ulama sepakat untuk meyakini bahwa tokoh yang bertemu dengan Nabi Musa adalah Nabi Khidir.
Sosoknya dikenal sebagai seorang nabi yang memiliki ilmu laduni, yaitu ilmu yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya tanpa melalui perantara.
Keistimewaannya tersebut menjadikannya sosok yang mampu memahami hikmah di balik kejadian-kejadian yang tampak tidak masuk akal bagi manusia biasa.
Kisah Nabi Khidir dalam Al Qur’an
Kisah tentang Nabi Khidir tertulis di dalam Al Qur’an, tepatnya di dalam Surah Al Kahfi ayat 60-82.
Di dalam rangkaian ayat tersebut, Nabi Khidir diceritakan di mana ia bertemu dengan Nabi Musa dan melakukan sebuah perjalanan.
Nabi Musa diberitahu oleh Allah SWT bahwa ada seseorang yang ilmunya sangat tinggi, melebihi ilmu Nabi Musa sendiri.
Maka dari itu Nabi Musa beringinan untuk berguru kepada Nabi Khidir, dan pada akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan.
Selama perjalanan bersama, Nabi Khidir nampak melakukan tiga hal yang membuat Nabi Musa terheran-heran.
- Melubangi perahu
Diceritakan Nabi Khidir merusak sebuah perahu milik orang yang tidak bersalah tanpa alasan.
Nabi Musa yang tampak bingung dan merasa kalau hal tersebut adalah hal yang salah, namun Nabi Musa tidak bisa berbuat apapun karena Nabi Khidir tak mengizinkannya untuk bertanya.
Ternyata, alasan Nabi Khidir merusak dan melubangi perahu milik seseorang yang tak berasalah adalah untuk menyelamatkan perahu itu dari seorang raja zalim yang akan merampasnya.
- Membunuh anak kecil
Pada perjalanan tersebut Nabi Khidir juga diceritakan pernah membunuh seorang anak kecil tanpa alasan.
Ada yang mengatakan anak kecil atau anak muda (remaja).
Ternyata, alasan Nabi Khidir yang secara tiba-tiba membunuh anak kecil tersebut dikarenakan di masa depan anak tersebut akan menjerumuskan orang tuanya ke jalan yang sesat.
Maka dari itu untuk mencegah anak tersebut melakukan hal tersebut, Nabi Khidir membunuhnya untuk mencegah orang tuanya yang awalnya beriman kepada Allah SWT akan terjerumus pada kesesatan.
- Memperbaiki Rumah
Hal lain yang dilakukan oleh Nabi Khidir yaitu memperbaiki sebuah dinding rumah yang hampir runtuh.
Nabi Khidir yang memperbaiki atau membangun ulang tembok rumah di sebuah desa lagi-lagi membuat Nabi Musa terheran-heran.
Nabi Khidir pun menjelaskan alasannya, ternyata alasannya di bawah rumah tua yang hampir roboh tersebut tersimpan sebuah harta peninggalan dari orang tua yang sudah meninggal.
Nabi Khidir ingin melindungi harta tersebut untuk tidak dicuri oleh orang-orang sebelum anak-anak yatim itu dewasa.
Apakah Nabi Khidir Masih Hidup?
Perdebatan Nabi Khidir yang masih hidup atau sudah meninggal masih sering ditemukan hingga saat ini.
Ada yang menyebutkan Nabi Khidir masih hidup hingga saat ini karena beliau diberi mukjizat berupa umur yang panjang oleh Allah SWT.
Namun, ada juga yang membantah pendapat tersebut, karena di dalam Al Qur’an tidak ada ayat manapun yang menjelaskan kalau Nabi Khidir masih hidup.
Bagi yang berpendapat kalau Nabi Khidir tidak hidup hingga saat ini, mereka berdasarkan pada dalil-dalil di dalam Al Qur’an dan hadis.
Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ
Artinya: “Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelum engkau (Nabi Muhammad). Maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiya’: 34).
Selain itu, Nabi Muhammad juga pernah menyebutkan di dalam hadisnya, yaitu:
لا يبقى على رأس مائة سنة ممن هو على وجه الأرض أحد
Artinya: “Tidak akan tersisa seorang-pun di muka bumi ini pada serratus tahun yang akan datang.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum






