Nenek 104 Tahun Asal Pamekasan Wujudkan Impian Haji Dengan Celengan Bambu

oleh -1075 Dilihat
Mbah Marhamah yang tidak membawa kursi roda, mendapatkan fasilitas pinjaman kursi roda dari PPIH Embarkasi Surabaya.

MEMORANDUM– Asrama Haji Surabaya pada Kamis yang lalu menjadi saksi bisu kedatangan jemaah haji tertua dari Jawa Timur, seorang wanita luar biasa bernama Mbah Marhamah.

Di usianya yang telah menginjak 104 tahun, Mbah Marhamah siap menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, ditemani putri kedelapannya, Ayyamah (40).

Mbah Marhamah dan putrinya yang tergabung dalam kloter 95 ini berasal dari Dusun Nagasari, Desa Palengan Laok, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan.

Kisah perjalanan Mbah Marhamah menuju Baitullah bukanlah cerita biasa. Ia mendaftar haji pada tahun 2019, enam tahun setelah sang anak mendaftar di tahun 2013.

“Sebenarnya ibu saya sudah lama ingin berhaji, cuma karena secara ekonomi belum mampu, anak-anaknya juga banyak, ada sepuluh, baru bisa mendaftar tahun 2019,” ungkap Ayyamah, membuka tabir perjuangan ibundanya.

Dahulu, Mbah Marhamah adalah seorang petani gigih yang menanam berbagai komoditas, mulai dari tembakau, kangkung, bayam, hingga kacang. Meski sudah tidak bekerja lagi sejak 10 tahun terakhir, semangatnya untuk beribadah tak pernah padam.

Ayyamah menceritakan kebiasaan unik ibunya yang menjadi kunci keberangkatan haji rutin menabung di celengan bambu setiap harinya.

“Kalau nominal menabungnya tidak tentu. Biasanya kalau punya uang Rp100 ribu, yang Rp30 ribu ditabung di celengan bambu. Seperti itu selama bertahun-tahun. Ketika sudah ada Rp25 juta, uang yang terkumpul dipergunakan untuk mendaftar haji,” jelas Ayyamah.

Kisah ini menjadi inspirasi tentang bagaimana ketekunan dan kesabaran dapat mewujudkan mimpi besar.

Rahasia Panjang Umur dan Kesehatan Mbah Marhamah Saat berjumpa dengan Mbah Marhamah, penampilan beliau jauh dari kesan wanita berusia satu abad lebih.

Sosoknya justru terlihat seperti wanita berusia 60-an tahun. Ayyamah dengan bangga membocorkan rahasia di balik awet mudanya sang ibunda.

“Ibu saya ini rutin melaksanakan shalat tahajud, shalat hajat, shalat dhuha, serta sehari-hari terbiasa membaca shalawat nariyah,” beber Ayyamah.

Selain itu, Mbah Marhamah juga sangat disiplin dalam menjaga pola makan.

“Ibu saya ini tidak mau makan nasi dari magic com. Kalau mau makan nasi harus dimasak secara tradisional di kompor.Beliau tidak mau makan makanan yang mengandung bahan pengawet, jadi hanya makan makanan yang direbus,” katanya.

Berkat pola hidup sehat ini, Mbah Marhamah di usianya yang sudah memasuki 104 tahun masih sehat walafiat.

“Alhamdulillah, ibu masih sehat, hanya pendengarannya sudah berkurang kemampuannya, jadi beliau ini tidak punya sakit diabetes maupun hipertensi,” imbuh Ayyamah.

Sang ayah, yang berusia 108 tahun, juga menganut pola makan serupa, meskipun kini hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Meski usianya terbilang senja, Mbah Marhamah tetap memancarkan optimisme tinggi.0Ia berharap dapat menunaikan ibadah haji sebaik-baiknya dan diberikan kemudahan serta kelancaran selama di Tanah Suci.

Untuk mendukung kelancaran ibadahnya, Mbah Marhamah yang tidak membawa kursi roda, mendapatkan fasilitas pinjaman kursi roda dari PPIH Embarkasi Surabaya yang akan dibawa ke Tanah Suci.

Mbah Marhamah dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci pada Jumat, 30 Mei 2025, pukul 15.05 WIB dari Bandara Internasional Juanda.

Keberangkatannya menjadi bukti nyata bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih impian dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.(*)

Penulis: Ali Muchtar


No More Posts Available.

No more pages to load.