Rabiatul Adawiyah dan Konsep Cinta Ilahi dalam Tasawuf

oleh -2547 Dilihat
foto: unsplash.com

MEMORANDUM – Bagi anda yang pernah belajar tentang ilmu tasawuf, tentunya sudah tidak asing mendengar atau membaca nama Rabiatul Adawiyah.

Di dalam sejarah, ada banyak sekali tokoh sufi yang menginspirasi dengan ajaran atau kisah kehidupannya. Rabiatul Adawiyah merupakan salah satunya, ia adalah seorang sufi wanita yang terkenal karena konsep cinta illahi yang tulus dan mendalam.

Tingakt sufisme Rabiatul Adawiyah sudah mencapai tingkat yang tinggi, yaitu Mahabbah atau Mahabbatullah, yaitu cinta pada Allah SWT.

Siapa itu Rabiatul Adawiyah?

Rabiatul Adawiyah lahir di Basra, Irak, sekitar tahun 717 M dan disebut-sebut menjadi ibu dari para sufi besar setelahnya.

Diceritakan Rabiah lahir dalam keluarga miskin, ditambah lagi ketika ia kehilangan kedua orang tuanya ketika masih kecil.

Dikatakan juga Rabiah pernah menjadi budak, namun karena rasa taqwa Rabiah sangat tinggi, akhirnya ia dibebaskan oleh majikannya.

Semenjak itu, ia memilih untuk hidup zuhud, yakni menjauhi kehidupan duniawi dan sepenuhnya mengabdikan diri kepada Allah SWT.

Madzhab Cinta Rabiatul Adawiyah

Rabiah benar-benar mengabdikan dirinya kepada Allah SWT, setiap harinya dihabiskan untuk menyembah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Ia juga menjalani hidup yang sederhana, memilih untuk tidak menikah dan menolak harta duniawi dan lebih memilih untuk menghabiskan hari-harinya untuk beribadah.

Rabiah menjalani konsep yang cukup berbeda dengan yang lain, konsep ini disebut dengan sebutan Mahabbah atau cinta kepada Allah tanpa pamrih.

Ia menekankan bahwa seorang hamba harus mencintai Allah karena Allah adalah satu-satunya yang layak dan harus dicintai, bukan karena takut akan neraka dan mengharapkan surga.

Menurut sebuah riwayat, Rabiah pernah membuat sebuah syair, yaitu:

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, jauhkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu hanya karena mencintai-Mu, maka janganlah Engkau sembunyikan keindahan wajah-Mu dariku”.

Kesufian Rabiatul Adawiyah sudah sangat diakui pada masanya, Rabiah juga disebut-sebut sebagai sufi yang tidak mengikuti tokoh-tokoh sufi terkemuka lainnya dan tidak pernah mendapat bimbingan dari siapapun.

Syekh Abdul Qodir Al Jailani menggolongkan Rabiatul Adawiyah ini ke dalam golongan sufi para pencari tuhan.

Wafatnya Rabiatul Adawiyah

Rabiah diperkirakan wafat sekitar tahun 801 M pada usia ke-83 tahun.

Sebelum wafat, ia sudah lama mempersiapkan kain kafan untuk dirinya sendiri yang diletakkan di sebelah tempat sujudnya.

Alasan Rabiah melakukan hal tersebut adalah ia ingin kain yang akan membungkus jenazahnya berasal dari harta yang jelas.

 

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Abiel Mahasin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.