Sirah Nabawiyah, Perjalanan Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul dan Pemimpin Negara Islam

oleh -2823 Dilihat
Foto : Unsplash

MEMORANDUM – Sebelum Muhammad SAW menjadi khalifah yang pertama sekaligus diutus sebagai rasul Allah, beliau hanyalah seorang penggembala kambing biasa.

Sehari-harinya beliau menjaga dan menggiring kambing-kambing ternaknya menuju padang rumput yang asri dan menjauhkan mereka dari padang tandus serta ancaman dari para serigala.

Selain itu, beliau juga seorang pedagang yang memiliki banyak sifat diantaranya, Shiddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Fathanah (cerdas), serta Tabligh (menyampaikan kebenaran).

Muhammad kecil pernah pergi ke negeri Syam untuk berdagang bersama pamannya, Abu Thalib. Tak hanya itu, beliau juga pernah menjajakan dagangan calon istri pertamanya yaitu Siti Khadijah ra.

Merangkum isi dari buku “Sirah Nabawiyah: Sisi Politis Perjuangan Islam” karya Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji.

Saat sebelum masa Muhammad saw. diutus sebagai rasul, beliau diperlihatkan sebuah mimpi oleh Allah.

Mimpi Rasulullah tidak hanya sebatas mimpi biasa, namun digambarkan seperti “cahaya yang memecahkan gelapnya malam (falaq ash-shubhi)” (Rawwas Qol’ahji, 2007, h. 42).

Mimpi-mimpi pada masa itu biasanya digunakan sebagai penentu suatu tindakan seseorang.

Hal itu sama halnya ketika kakek Rasulullah, Abdul Muthalib, di beri mimpi oleh Allah untuk menggali sumur air zamzam yang pernah dikubur oleh suku Jurhum, kemudian ia mengerjakannya setelah beberapa kali diberi mimpi yang sama.

Ketika waktu di mana Muhammad saw. diutus menjadi rasul semakin dekat, semua makhluk dan benda-benda ciptaan Allah selalu mengucap salam kepada beliau.

Hal ini seperti dijelaskan dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan dari Jabir bin Samurah ra. Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya di Mekkah ada batu yang memberi salam kepadaku, tepatnya di malam ketika aku diangkat sebagai rasul, namun sekarang aku sudah tidak mengenalnya lagi.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Tidak lama setelah Muhammad saw. menjadi rasul, beliau diserahi tugas untuk memimpin para umat Islam sebagai khalifah.

Beliau diberi wahyu yang pertama, surah Al-Alaq ayat 1-5, oleh Allah swt. melalui perantara Malaikat Jibril ketika beliau sedang mengasingkan diri di gua Hira.

Beliau selalu mengasingkan diri di gua Hira selama sebulan untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang baik.

Beliau diangkat sebagai pemimpin secara langsung oleh sang Khaliq, Allah swt., Dzat Yang Maha Tahu akan makhluk ciptaannya sekaligus kemampuannya.

اَللّٰهُ اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسٰلَتَهٗۗ

“Allah mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am [6]:124).

Kemudian dua wahyu Allah swt. yang selanjutnya turun, setelah jeda waktu yang cukup lama, memerintahkan Rasulullah untuk segera mendirikan Negara Islam.

يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ.قُمْ فَاَنْذِرْۖ.وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ.وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ

“Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad). bangunlah, lalu berilah peringatan! Tuhanmu, agungkanlah! Pakaianmu, bersihkanlah!” (QS. Al-Muddatstsir [74]: 1-4).

Wahyu Allah selanjutnya,

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَۙ

“Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (QS. Asy- Syu’ara’ [26]: 214)

Menurutnya sifat dari pemimpin yang baik adalah mereka yang jauh dari sifat iri dengki terhadap umatnya sekaligus menyayangi mereka dengan kasih sayang, bukan dengan kekuatan dan kekerasan.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Akmal Haidar – Mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Akmal Haidar
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.