MEMORANDUM – Lebaran selalu menjadi momen yang dinanti, bukan hanya karena hidangan khas dan baju baru, tetapi juga karena tradisi sungkeman dan bermaaf-maafan. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, Hari Raya Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk menyucikan hati dengan saling memaafkan.
Di Indonesia, tradisi sungkeman memiliki tempat khusus dalam perayaan Lebaran. Momen ini bukan hanya tentang menundukkan badan di hadapan orang tua atau sesepuh keluarga, tetapi juga simbol rasa hormat, kasih sayang, dan keinginan untuk kembali suci tanpa beban kesalahan masa lalu.
Sungkeman merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, yang dilakukan dengan cara berlutut atau duduk bersimpuh di hadapan orang tua, kakek-nenek, atau sesepuh keluarga sambil meminta maaf dengan tulus.
Makna dari sungkeman sangat mendalam, di antaranya:
– Menghormati Orang Tua dan Sesepuh: Sungkeman menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang lebih tua, mengingat jasa dan pengorbanan mereka selama ini.
– Melebur Dosa dan Kesalahan: Dengan meminta maaf secara langsung, seseorang menunjukkan ketulusan untuk memperbaiki hubungan yang mungkin pernah renggang.
– Menjaga Kerukunan Keluarga: Lebaran sering menjadi ajang berkumpul keluarga besar. Momen sungkeman membantu mencairkan ketegangan dan mempererat kembali hubungan yang sempat renggang.
Agar sungkeman benar-benar bermakna, berikut beberapa adab yang sebaiknya diperhatikan:
– Datang dengan Hati yang Ikhlas: Jangan hanya melakukan sungkeman karena sekadar tradisi, tetapi benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus.
– Bersikap Sopan dan Rendah Hati: Duduk atau berlutut dengan sikap hormat saat sungkeman menunjukkan penghargaan kepada yang lebih tua.
– Gunakan Kata-Kata yang Baik: Saat meminta maaf, sampaikan dengan lembut dan sopan, misalnya:
“Bapak/Ibu, saya mohon maaf atas semua kesalahan yang telah saya perbuat, baik sengaja maupun tidak sengaja. Semoga Bapak/Ibu selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.”
– Berpelukan atau Mencium Tangan: Biasanya, setelah sungkeman, diakhiri dengan mencium tangan atau berpelukan sebagai tanda kasih sayang dan pengampunan.
Selain sungkeman, setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik dalam menjalankan tradisi bermaaf-maafan:
– Badamai di Kalimantan Selatan
Di masyarakat Banjar, bermaaf-maafan disebut badamai. Setelah salat Idul Fitri, keluarga akan berkumpul dan melakukan ritual ini untuk mempererat tali silaturahmi.
– Salam-salaman di Minangkabau
Di Sumatra Barat, bermaaf-maafan dilakukan dengan cara berjabat tangan sambil saling mengucapkan permohonan maaf, biasanya disertai dengan acara makan bersama.
– Malamang di Sumatra Barat
Selain bermaaf-maafan, masyarakat Minangkabau juga melakukan malamang, yaitu membuat lemang bersama sebagai simbol kebersamaan dalam menyambut Idul Fitri.
– Halal Bihalal di Seluruh Indonesia
Setelah Lebaran, masyarakat Indonesia sering mengadakan halal bihalal, yaitu acara silaturahmi di lingkungan kerja, komunitas, atau tetangga sebagai ajang saling memaafkan.
Dalam Islam, meminta dan memberi maaf adalah bagian dari ajaran utama. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang tidak memberi maaf kepada orang lain, maka ia tidak akan dimaafkan oleh Allah.” (HR. Ahmad)
Selain itu, bermaaf-maafan juga memberikan manfaat berikut:
✔ Meringankan Beban Hati: Melepaskan dendam dan kesalahan membuat hati lebih tenang dan damai.
✔ Menjaga Hubungan Sosial: Dengan saling memaafkan, hubungan dengan keluarga, sahabat, dan tetangga akan tetap harmonis.
✔ Mendapat Keberkahan: Allah menjanjikan pahala bagi mereka yang ikhlas memberi maaf kepada sesama.
Sungkeman dan bermaaf-maafan bukan sekadar tradisi Lebaran, tetapi juga wujud nyata dari kembali ke fitrah. Dengan tulus meminta dan memberi maaf, kita tidak hanya memperbaiki hubungan dengan sesama, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah.
Lebaran 2025 menjadi momen terbaik untuk merajut kembali silaturahmi yang mungkin pernah renggang. Mari jadikan tradisi ini sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih harmonis dan penuh berkah.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 2025! Mohon maaf lahir dan batin.
Artikel ini ditulis oleh Findo Sinatrya, Mahasiswa Magang di Memorandum






