Tantangan Barista di Bulan Puasa: Jaga Stamina, Layani dengan Prima

oleh -856 Dilihat
Brooke Cagle - Unsplash

MEMORANDUM – Menjalani profesi sebagai barista di bulan Ramadan memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam mengatur ritme kerja agar tetap produktif dan tetap menjalankan ibadah dengan baik.

Dari pagi hingga malam, barista harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pola makan, jam kerja yang lebih padat, serta lonjakan pelanggan menjelang berbuka puasa.

Rutinitas dimulai sejak sahur, di mana memilih makanan yang tepat sangat penting untuk menjaga energi sepanjang hari. Setelah sahur dan menunaikan ibadah subuh, barista yang memiliki shift pagi harus bersiap memulai hari kerja.

Meskipun belum bisa menikmati secangkir kopi seperti biasanya, fokus dan ketahanan fisik tetap harus dijaga. Pagi hari biasanya masih relatif sepi, sehingga bisa dimanfaatkan untuk persiapan alat, stok bahan, serta memastikan kafe dalam kondisi siap melayani pelanggan.

Memasuki siang hari, tantangan terbesar adalah melawan rasa kantuk dan menjaga energi. Bekerja di lingkungan yang dipenuhi aroma kopi bisa menjadi ujian tersendiri bagi barista yang sedang berpuasa.

Mengatur ritme kerja dengan baik, tetap bergerak aktif tanpa berlebihan, serta mengambil waktu istirahat singkat saat memungkinkan bisa membantu menjaga stamina.

Komunikasi dengan rekan kerja juga penting agar pembagian tugas tetap seimbang dan tidak terlalu membebani satu orang saja.

Saat sore menjelang magrib, suasana kafe biasanya mulai ramai dengan pelanggan yang mencari tempat untuk berbuka puasa. Momen ini menjadi salah satu waktu tersibuk bagi barista, di mana pesanan meningkat tajam, terutama untuk menu berbuka seperti kopi dingin, teh, atau makanan ringan.

Kecepatan dan ketepatan dalam menyajikan pesanan sangat dibutuhkan agar pelanggan tetap puas dengan layanan yang diberikan.

Setelah berbuka, barista yang masih bertugas bisa memanfaatkan jeda waktu untuk makan dan minum secukupnya agar tetap bertenaga hingga akhir shift. Pada malam hari, aktivitas di kafe bisa tetap ramai, terutama bagi mereka yang mencari tempat bersantai setelah tarawih.

Menjelang closing, barista harus kembali fokus pada kebersihan area kerja, merapikan peralatan, serta memastikan stok bahan untuk keesokan harinya sudah siap.

Dengan perencanaan yang baik dan manajemen energi yang tepat, seorang barista bisa menjalani bulan Ramadan dengan tetap produktif tanpa mengabaikan kesehatan dan ibadah.

Mengatur pola makan, mengelola waktu istirahat, serta menjaga semangat dalam bekerja akan membantu menjalani rutinitas harian dengan lebih lancar dan nyaman selama bulan puasa.

 

Artikel ini ditulis oleh Reynaldi Micola, Mahasiswa Magang di Memorandum

 

Penulis: Reynaldi Micola
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.