MEMORANDUM – Menjadi barista saat bulan Ramadan memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menciptakan latte art yang sempurna tanpa bisa mencicipi kopi atau susunya.
Biasanya, seorang barista mengandalkan pengecapan rasa untuk memastikan keseimbangan antara espresso dan susu sebelum menyajikan minuman kepada pelanggan.
Namun, ketika berpuasa, mereka harus mengandalkan teknik, pengalaman, dan intuisi untuk menghasilkan hasil terbaik.
Salah satu kunci utama dalam menjaga kualitas latte art selama berpuasa adalah mengandalkan pengamatan visual terhadap espresso dan susu yang dikukus.
Espresso yang baik harus memiliki crema yang tebal dan merata, sementara susu yang dikukus harus memiliki tekstur mikrofoam yang lembut. Dengan memperhatikan detail ini, barista bisa memastikan hasil akhir tetap sesuai standar tanpa harus mencicipi.
Latihan dan pengalaman juga menjadi faktor penting. Barista yang sudah terbiasa dengan berbagai jenis biji kopi dan susu akan lebih mudah mengira-ngira rasa dan tekstur hanya dari aroma dan tampilan.
Selain itu, menggunakan peralatan yang konsisten seperti timbangan dan termometer juga bisa membantu memastikan proporsi espresso dan susu tetap ideal.
Selain aspek teknis, menjaga energi selama bekerja juga sangat penting. Barista yang berpuasa harus memastikan bahwa mereka mengonsumsi makanan bernutrisi saat sahur agar tetap bertenaga sepanjang hari.
Mengatur ritme kerja dan istirahat singkat di sela-sela kesibukan juga bisa membantu menjaga fokus dan konsentrasi saat membuat latte art.
Meskipun tantangannya cukup besar, banyak barista yang melihat Ramadan sebagai momen untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam membaca kopi dan susu tanpa mengandalkan pengecapan rasa.
Dengan ketekunan dan adaptasi yang tepat, mereka tetap bisa menghasilkan latte art yang indah dan nikmat bagi pelanggan tanpa mengorbankan kualitas meskipun sedang menjalani ibadah puasa.
Artikel ini ditulis oleh Reynaldi Micola, Mahasiswa Magang di Memorandum






