Menuju IGIC 2026, Menag Tegaskan Masjid Sebagai Pilar Perdamaian dan Peradaban Dunia

oleh -21 Dilihat

MEMORANDUM — Ribuan jemaah dari unsur pemerintah, akademisi, ulama, dan organisasi kemasyarakatan memadati Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Minggu (2/8).

Kehadiran massa ini bertujuan untuk mengikuti Istigasah dan Tabligh Akbar dalam rangkaian Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026.

​Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan umat dan diplomasi perdamaian dunia.

​Turut hadir dalam acara tersebut:
​Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar
​Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa ​Kakanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar ​Ketua SC IGIC, Irjen Pol. M. Sabilul Alif Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan PTKIN, tokoh agama, serta pimpinan ormas Islam.

​Rangkaian acara diawali dengan Seminar Nasional bertema “Masjid Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace” sebelum dilanjutkan dengan agenda istigasah dan tabligh akbar.

​Puncak IGIC 2026 dan Diplomasi Keagamaan Global ​Dalam ceramahnya, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa puncak IGIC dijadwalkan berlangsung pada September 2026 di Jakarta.

Konferensi internasional ini rencananya akan menghadirkan sekitar 400 imam besar dari 50 negara, termasuk tokoh-tokoh terkemuka seperti Syekh Sudais dan Grand Syekh Al-Azhar, serta para pimpinan imam dari Amerika, Eropa, hingga Asia.

​”Nanti Indonesia juga akan menjadi tuan rumah pemilihan Presiden Asosiasi Imam Besar Internasional yang baru. Ini menjadi momentum penting untuk membangun kesamaan visi, memperkuat ukhuwah, serta meneguhkan semangat toleransi dan perdamaian dunia,” ujar Menag.

​Menag menambahkan, sejak zaman Rasulullah SAW, masjid telah menjalankan fungsi multifungsi sebagai pusat pendidikan, tempat bermusyawarah, dan lokasi penyelesaian persoalan sosial.

Oleh karena itu, masjid harus terus dihidupkan agar tidak sekadar menjadi tempat ibadah mahdhah, melainkan pilar pemberdayaan dan pembinaan akhlak masyarakat.

​Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar, menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki posisi historis dan strategis sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Indonesia. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat adalah kunci utama dalam merawat persatuan.

​”Kita tidak hanya bermunajat kepada Allah SWT, tetapi juga meneguhkan komitmen bersama untuk menjaga persatuan umat, memperkuat moderasi beragama, serta membangun harmoni sosial di tengah keberagaman,” tegas Bahtiar.

​Sementara itu, Ketua Steering Committee IGIC, Irjen Pol. M. Sabilul Alif, menjelaskan bahwa gelaran di Surabaya merupakan bagian dari sosialisasi berkelanjutan yang sebelumnya telah diadakan di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Banten. Acara di Surabaya sendiri berhasil menyedot perhatian sekitar 11 ribu jemaah.

​”Imam bukan hanya pemimpin ibadah, tetapi juga panutan moral yang memiliki jejaring lokal, nasional, hingga global. Melalui IGIC, Indonesia diharapkan menjadi episentrum peradaban Islam dunia yang mengedepankan harmoni, diplomasi keagamaan, dan perdamaian,” pungkas Sabilul Alif.(*)

Penulis: Ali Muchtar


No More Posts Available.

No more pages to load.