14 Tahun Menanti, Impian Sajeriah Jemaah Tunanetra Menjadi Kenyataan di Tanah Suci

oleh -1998 Dilihat

MADINAH,MEMORANDUM – Meskipun matanya tak bisa melihat, hati Sajeriah bersinar terang. Meski fisiknya tak sempurna, semangatnya tak pernah padam. Nenek berusia 65 tahun ini akhirnya mewujudkan mimpinya untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci setelah penantian panjang selama 14 tahun.

Sajeriah, yang berasal dari Pare-pare, Sulawesi Selatan, tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 3 Embarkasi Makassar (UPG-03) dan tiba di Madinah pada tanggal 15 Mei 2024.

Meskipun memiliki keterbatasan penglihatan, semangat Sajeriah tak pernah surut. Dia mempersiapkan sendiri perlengkapan hajinya dengan tekun, mulai dari mencuci, melipat, hingga menyusunnya di dalam koper.

Keteguhan hati Sajeriah pun terlihat saat dia menyatakan kesiapannya untuk menjalankan ibadah haji. Bahkan, dia ikhlas jika ditakdirkan meninggal saat menunaikan ibadah haji.

“Saya tidak takut, kalaupun saya meninggal tidak apa-apa,” ujar Sajeriah di Madinah, Rabu 15 Mei 2024, kepada tim Media Center Haji (MCH) 2024.

Keikhlasan Sajeriah ini membuat orang-orang di sekitarnya terharu. Hasmia (53), keponakan yang mendampingi Sajeriah menunaikan ibadah haji, tak kuasa menahan air matanya.

Sejak kecil, Hasmia telah memiliki kedekatan yang special dengan sang bibi. Sajeriah dikenal sebagai sosok yang mandiri.

Dia mampu mengurus keponakan-keponakannya, memasak nasi, mencuci, dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan cekatan.

Hasmia bahkan tak merasa Sajeriah memiliki keterbatasan karena dia begitu terampil.”Dia bisa masak, mencuci, dan segalanya dia lakukan sendiri,” ucap Hasmia.

Semangat luar biasa Sajeriah pun mendapatkan pujian dari Hafidah Jufri, perawat yang memeriksa kesehatan dan mendampinginya. Menurut Hafidah, kondisi kesehatan Sajeriah sangat baik berdasarkan hasil tes kesehatan, termasuk tes darah dan urine.

“Semangatnya luar biasa, saya salut,” ujar Hafidah.

M Hasyim Usman, Ketua Kloter 3 UPG, juga kagum dengan tekad kuat Sajeriah untuk berangkat haji meskipun memiliki keterbatasan.

“Awalnya, pendampingan dia tidak masuk. Awalnya yang diusulkan untuk mendampingi adalah keponakannya yang serumah, tetapi tidak bisa,” ucap Hasyim.

Namun, begitu Sajeriah dinyatakan berangkat, Hasyim memberikan semangat dan dukungan penuh. Salah satunya, dia membagi anggota rombongan dengan komposisi yang beragam, mulai dari tua muda, lansia, hingga anggota yang sehat dan yang memiliki masalah kesehatan.

Kisah inspiratif Sajeriah ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk meraih mimpi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semangat dan keteguhan hatinya menjadi teladan bagi kita semua.(*)



No More Posts Available.

No more pages to load.