Bekal Pulang Haji Bukan Akhir Ibadah, Melainkan Awal Perubahan

oleh -44 Dilihat
H. Ahmad Bajuri, S.Ag., M.Ag. (Ketua Forum Komunikasi Penyelenggara Umrah dan Haji (FK Patuh) Jawa Timur).

MEMORANDUM – haji telah usai. Satu per satu jamaah haji Indonesia kembali ke tanah air. Mereka pulang membawa senyum, air mata haru, pengalaman spiritual yang mendalam, serta gelar baru sebagai haji dan hajjah. Namun sesungguhnya, perjalanan yang paling berat justru dimulai ketika pesawat mendarat di tanah air.

Pergi haji memang tidak mudah. Ada yang menunggu antrean belasan hingga puluhan tahun. Ada yang menabung sedikit demi sedikit sepanjang hidupnya. Ada pula yang mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan meninggalkan keluarga selama lebih dari empat puluh hari. Semua pengorbanan itu tentu tidak boleh berakhir hanya menjadi kenangan.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pertanyaannya, bagaimana menjaga agar kemabruran itu tetap hidup setelah pulang dari Tanah Suci?

Kemabruran haji bukanlah sebuah gelar, melainkan sebuah perubahan. Ukurannya bukan seberapa banyak oleh-oleh yang dibawa pulang, tetapi seberapa besar perubahan akhlak, ibadah, dan manfaat yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Setidaknya ada lima bekal yang harus terus dijaga oleh setiap jamaah haji.

Pertama, menjaga istiqamah dalam ibadah.

Di Makkah dan Madinah, hampir semua jamaah berlomba-lomba memenuhi masjid, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan memperbanyak shalat sunnah. Kebiasaan indah itu jangan berhenti ketika kembali ke rumah.

Allah SWT berfirman:

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.”
(QS. Al-Hijr: 99)

Artinya, semangat ibadah tidak mengenal kata selesai. Haji bukan akhir dari ibadah, tetapi awal untuk menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah. Jagalah shalat berjamaah, biasakan membaca Al-Qur’an setiap hari, hidupkan dzikir, dan jika mampu, teruskan kebiasaan shalat Dhuha maupun Tahajud.

Kedua, menjaga akhlak dan kesabaran.

Banyak jamaah mampu bersabar ketika berhimpitan saat tawaf, mengantre makanan, atau berjalan jauh di tengah terik matahari. Kesabaran seperti itulah yang seharusnya dibawa pulang.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi)

Haji mabrur akan terlihat dari perubahan sikap. Tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, ringan memaafkan, rendah hati, dan menjadi pribadi yang menenangkan orang lain. Jika setelah haji seseorang lebih lembut kepada pasangan, lebih sabar kepada anak, dan lebih santun kepada tetangga, maka di situlah tanda-tanda kemabruran mulai tampak.

Ketiga, menjaga lisan.
Di Tanah Suci, hampir setiap saat lisan dipenuhi talbiyah, dzikir, doa, dan kalimat-kalimat yang baik. Jangan sampai setelah pulang, lisan justru kembali dipenuhi ghibah, fitnah, dan kata-kata yang menyakiti.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lisan seorang haji seharusnya menjadi sumber kesejukan. Ucapannya memberi semangat, menghadirkan kedamaian, dan mengajak kepada kebaikan.

Keempat, peduli dan menolong sesama.

Di Tanah Suci kita sering menyaksikan jamaah saling membantu. Ada yang menuntun lansia, membantu jamaah yang tersesat, berbagi makanan, bahkan saling mendoakan tanpa saling mengenal.

Semangat itu hendaknya terus hidup setelah pulang.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Haji mabrur tidak hanya rajin beribadah secara pribadi, tetapi juga peduli terhadap lingkungan. Gemar bersedekah, membantu tetangga, menjadi penolong ketika ada kesulitan, serta menghadirkan solusi di tengah masyarakat.

Kelima, menjadi duta haji mabrur.

Kemabruran sejati bukan hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat.

Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Seorang haji hendaknya menjadi teladan. Kehadirannya membawa keteduhan, menjaga persatuan, mempererat silaturahim, serta menginspirasi orang lain untuk semakin dekat kepada Allah.

Pada akhirnya, haji bukan sekadar perjalanan menuju Makkah. Haji adalah perjalanan menuju perubahan diri.

Pergi haji memang berat. Menunggu bertahun-tahun, mengorbankan harta, tenaga, waktu, dan air mata. Namun yang jauh lebih berat adalah mempertahankan kemabruran hingga akhir hayat.

Karena itu, jangan biarkan yang pulang hanya koper, oleh-oleh, dan gelar “Haji”. Biarkan yang pulang adalah hati yang lebih bersih, ibadah yang lebih istiqamah, akhlak yang lebih mulia, lisan yang lebih santun, serta kehidupan yang lebih bermanfaat bagi sesama.

Jika masyarakat berkata, “Sejak pulang haji beliau menjadi lebih sabar, lebih dermawan, dan lebih menenangkan,” maka itulah kemabruran yang sesungguhnya.

Semoga Allah SWT menerima seluruh ibadah haji kita, menjaga kemabrurannya sepanjang hayat, dan mengumpulkan kita kembali di surga-Nya. (Penulis adalah Ketua Forum Komunikasi Penyelenggara Umrah dan Haji (FK Patuh) Jawa Timur).(*)

Penulis: Ali Muchtar


No More Posts Available.

No more pages to load.