Kedatangan jemaah kloter terakhir dan kembalinya Kloter 106 di Embarkasi Surabaya.
SURABAYA, MEMORANDUM – Menandai berakhirnya operasional penyelenggaraan ibadah haji tahun 1445 Hijriya atau 2024 Masehi. Dengan kembalinya Kloter 106 Embarkasi Surabaya pada hari ini, 22 Juli 2024.
Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Subhan Cholid, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran dan layanan terbaik yang diberikan kepada jemaah haji Indonesia tahun ini.
“Alhamdulillah, operasional haji tahun ini berjalan dengan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Subhan Cholil.
“Meskipun jumlah jemaah lebih sedikit, yakni sekitar 400-500 orang dibandingkan dengan lebih dari 700 jemaah tahun lalu, berbagai tantangan seperti penyiapan penerbangan, akomodasi, dan Arafah dapat dilewati dengan baik,” tegasnya.
Keberhasilan ini, menurut Subhan, tidak lepas dari kerja sama seluruh pihak, mulai dari petugas di kecamatan hingga di Arab Saudi, di bawah bimbingan Menteri Agama, Sekretaris Jenderal Kemenag, Dirjen PHU, dan seluruh jajaran, termasuk petugas di Embarkasi Surabaya.
“Dedikasi dan kesungguhan seluruh petugas dalam memberikan layanan terbaik kepada jemaah haji patut diapresiasi,” ujar Subhan.
“Hal ini terbukti dengan kepuasan jemaah yang mendapatkan layanan maksimal sejak dari rumah hingga kembali ke tanah air,” ungkapnya.
Kepala Kantor Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Juanda Surabaya, dr. Rosidi Roslan, S.IP, SKM, SH, MPH, MM, menambahkan bahwa upaya kesehatan jemaah haji tahun ini diperketat. Hal ini terlihat dari penurunan angka kematian dibandingkan tahun lalu.
“Tercatat 89 jemaah haji Indonesia yang meninggal di Arab Saudi tahun ini, dibandingkan dengan lebih dari 100 jemaah tahun lalu,” jelas dr. Rosidi.
“Penurunan ini kemungkinan besar berkat kebijakan kesehatan yang tepat dan terlaksana dengan baik di daerah asal jemaah, serta asesmen kesehatan yang ketat sebelum keberangkatan,” katanya.
Meskipun demikian, Dr. Rosidi mengakui bahwa faktor usia dan kondisi kesehatan jemaah masih menjadi faktor utama dalam angka kematian.
“Sebanyak 77% jemaah yang meninggal berusia di atas 60 tahun,” ungkapnya.
“Kabupaten Tulungagung memiliki jemaah haji terbanyak yang meninggal,” imbuhnya.
dr.Rosidi juga menjelaskan bahwa mayoritas kematian terjadi setelah puncak haji di Arafah, dengan penyebab utama penyakit pernapasan, kardiovaskular, dan faktor lain yang muncul secara tiba-tiba.
“Sekitar 50-60% kematian disebabkan oleh penyakit pernapasan,” paparnya.
“Faktor usia dan kondisi kelelahan akibat perjalanan panjang juga turut berkontribusi,” terangnya.
Secara keseluruhan, operasional haji tahun 2024 terbilang sukses dengan layanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia. Kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak, serta upaya kesehatan yang maksimal, menjadi kunci utama dalam mencapai kesuksesan ini.(mtr)








