Sejarah, Lirik, dan Terjemahan Lagu Tob Tobi Tob yang Sedang Viral

oleh -2208 Dilihat
foto: freepik.com

MEMORANDUM – Akhir-akhir ini terdapat sebuah fenomena viralnya sebuah lagu di media sosial yang bernama TikTok.

Pasalnya, terdapat sebuah lagu yang tiba-tiba menjadi viral di platform tersebut.

Bagi kalian yang menggunakan TikTok, maka kalian mungkin tidak asing ketika mendengarnya, lagu tersebut berjudul “Tob Tobi Tob”.

Lagu tersebut menjadi viral dan seringkali muncul di FYP (for your page) dikarenakan liriknya yang berulang-ulang dan ritmenya yang cepat.

Sejarah Tob Tobi Tob

Sebenarnya Tob Tobi Tob ini bukanlah sebuah lagu, melainkan sebuah syair yang memiliki judul asli “Sawt Safir Al Bulbuli” (صوت صفير البلبل) yang berarti “Suara Siulan Burung Bulbul”.

Menariknya lagi, syair ini bukanlah syair yang baru rilis akhir-akhri ini, akan tetapi sudah ada sejak 1000 tahun yang lalu pada zaman Dinasti Abbasiyah.

Menurut cerita yang beredar, syair ini pertama kali ditulis oleh seorang penyair yang bernama Al Asma’i, ditujukan kepada seorang pemimpin Dinasti Abbasiyah pada saat itu yang bernama Khalifah Abu Ja’far al Mansur.

Jadi diceritakan bahwa Khalifah tersebut terkenal mampu menghafal segala macam syair hanya dengan mendengarnya sekali saja.

Maka dari itu, Al Asma’i ingin membuat sebuah syair yang berbeda dan membuat sang Khalifah kesulitan.

Itulah yang menyebabkan syair tersebut memiliki lirik yang berulang-ulang dan ritme yang cepat, tujuannya supaya sang Khalifah kesusahan untuk menghafalnya.

Lirik Syair dan Terjemahan

صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ هَيَّجَ قَلْبِيَ الثَمِلِالمَاءُ وَالزَّهْرُ مَعَاً مَعَ زَهرِ لَحْظِ المُقَلِ

Suara siulan burung bulbul menggetarkan hatiku yang mabukAir dan bunga, beserta mekarnya sekilas pandangan mata.

وَأَنْتَ يَاسَيِّدَ لِي وَسَيِّدِي وَمَوْلَى لِيفَكَمْ فَكَمْ تَيَّمَنِي غُزَيِّلٌ عَقَيْقَلي

Dan engkau, tuanku, penguasaku, dan pelindungku – Seberapa sering, seberapa sering seekor rusa kecil dengan kalung memikat aku.

قَطَّفْتُ مِنْ وَجْنَتِهِ مِنْ لَثْمِ وَرْدِ الخَجَلِفَقَالَ لاَ لاَ لاَ ثم لاَ لاَ لاَ وَقَدْ غَدَا مُهَرْوِلِ

Kupetik dari pipinya, mencium bunga mawar penuh rasa malu – Dia berkata, “Tidak, tidak, tidak, tidak,” dan kemudian berlari cepat.

وَالخُودُ مَالَتْ طَرَبَاً مِنْ فِعْلِ هَذَا الرَّجُفَوَلْوَلَتْ وَوَلْوَلَتُ وَلي وَلي يَاوَيْلَ لِي

Gadis belia itu terbuai kegembiraan karena tingkah lelaki ini – Dia meratap dan meratap, “Celakalah aku, celakalah aku, oh celakalah aku!”

فَقُلْتُ لا تُوَلْوِلِي وَبَيِّنِي اللُؤْلُؤَ لَيقَالَتْ لَهُ حِيْنَ كَذَا انْهَضْ وَجِدْ بِالنَّقَلِ

Aku berkata, “Jangan menangis dan perlihatkan kepadaku mutiaramu.” – Lalu dia berkata kepadanya, “Bangunlah dan berusahalah dengan sungguh-sungguh.”

وَفِتْيَةٍ سَقَوْنَنِي قَهْوَةً كَالعَسَلَ لِيشَمَمْتُهَا بِأَنْفِي أَزْكَى مِنَ القَرَنْفُلِ

Dan para pemuda memberiku kopi semanis madu. – Aku menciumnya dengan hidungku, lebih harum dari cengkeh.

فِي وَسْطِ بُسْتَانٍ حُلِي بالزَّهْرِ وَالسُرُورُ لِيوَالعُودُ دَنْ دَنْدَنَ لِي وَالطَّبْلُ طَبْ طَبَّلَ لِي

Di tengah taman yang dihiasi bunga-bunga dan kegembiraan bagiku – Kecapi berbunyi “dun dun dun” untukku, dan genderang berbunyi “tob tob” untukku.

طَب طَبِ طَب طَبِ طَب طَب طَبَ ليوَالسَّقْفُ قَدْ سَقْسَقَ لِي وَالرَّقْصُ قَدْ طَبْطَبَ لِي

“Tob Tobi Tob Tob Tob Tob Tob Tob Tob” untukku – Atapnya berguncang “saq saq saq” bagiku, dan tariannya menyenangkanku.

شَوَى شَوَى وَشَاهِشُ عَلَى وَرَقْ سَفَرجَلِوَغَرَّدَ القَمْرُ يَصِيحُ مِنْ مَلَلٍ فِي مَلَلِ

Suara merdu terdengar di antara dedaunan pohon pir – Bulan bersinar terang, tak menghapus Impian-impian indahku.

فَلَوْ تَرَانِي رَاكِباً عَلَى حِمَارٍ أَهْزَلِيَمْشِي عَلَى ثَلاثَةٍ كَمَشْيَةِ العَرَنْجِلِ

Dan andai kau melihatku menunggang keledai kurus – Berjalan dengan tiga kaki seperti pincangnya seseorang.

وَالنَّاسُ تَرْجِمْ جَمَلِي فِي السُوقِ بالقُلْقُلَلِوَالكُلُّ كَعْكَعْ كَعِكَعْ خَلْفِي وَمِنْ حُوَيْلَلِي

Orang-orang mengomentari keindahan di pasar dengan kehebohan – Semuanya berceloteh “ka ka ka” di belakangku dan di sekelilingku.

لكِنْ مَشَيتُ هَارِبا مِنْ خَشْيَةِ العَقَنْقِلِيإِلَى لِقَاءِ مَلِكٍ مُعَظَّمٍ مُبَجَّلِ

Tapi aku berjalan pergi, melarikan diri dari rasa malu – Untuk menemui seorang raja agung yang terhormat.

يَأْمُرُلِي بِخِلْعَةٍ حَمْرَاءُ كَالدَّمْ دَمَلِيأَجُرُّ فِيهَا مَاشِياً مُبَغْدِدَاً للذيَّلِ

Yang memberiku jubah merah seperti warna darah – Aku berjalan dengan penuh keanggunan, membiarkan ujungnya berkibar.

أَنَا الأَدِيْبُ الأَلْمَعِي مِنْ حَيِّ أَرْضِ المُوْصِلِنَظَمْتُ قِطَعاً زُخْرِفَتْ يَعْجَزُ عَنْهَا الأَدْبُ لِي

Aku adalah penyair cerdas dari tanah Arab – Aku merangkai syair indah yang membuat para pujangga terkesima.

أَقُولُ فِي مَطْلَعِهَا صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ

Aku berkata dalam pembukaannya, “suara kicauan burung bulbul”.

 

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum

 

Penulis: Muhammad Abiel Mahasin
Editor: Agus Supriyadi


No More Posts Available.

No more pages to load.