MEMORANDUM – Apakah kalian mengetahui kalau arah kita salat atau kiblat dulunya tidak menghadap ke ka’bah?
Kiblat merupakan sebuah arah dimana seluruh umat Islam akan menghadapkan wajahnya saat beribadah.
Saat ini, kiblat kita para umat Muslim adalah ke arah Ka’bah yang berletak di kota Mekah, Arab Saudi.
Itulah alasan mengapa kita saat salat kita menghadap ke arah barat, karena secara geografis Masjidil Haram berletak di sebelah barat Indonesia.
Kiblat Umat Muslim
Namun, di dalam sejarah Islam disebutkan kalau kiblat umat Muslim dulunya pernah berubah, yakni tidak di Masjidil Haram.
Diceritakan semenjak Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, apabila mengerjakan salat selalu menghadap ke arah Baitul Maqdis yang berletak di Palestina.
Melansir dari laman NU Online, Rasulullah SAW beserta umatnya menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina saat salat selama 16 bulan lamanya.
Dikarenakan pada saat itu, kota Mekah sedang dalam kondisi yang disebut sebagai zaman kegelapan, di mana penduduknya menyembah berhala.
Jadi Ka’bah pada saat itu diisi oleh banyak berhala, termasuk berhala yang paling besar yang diberi nama Hubal.
Sebaliknya, penduduk kota Madinah sudah mengenal agama, di antaranya ada yang beragama Nasrani dan juga beragama Yahudi.
Salat Menghadap ke Baitul Maqdis
Menurut beberapa riwayat, disebutkan kalau Rasulullah SAW salat baru menghadap ke Baitul Maqdis ketika berada di Madinah, jadi semasa di Mekah Rasulullah dan umatnya salat menghadap ke arah Ka’bah.
Rasulullah SAW salat menghadap ke Baitul Maqdis saat di Madinah dengan alasan menghargai kaum Nasrani dan Yahudi, yang mana kedua agama tersebut beribadah menghadap ke Baitul Maqdis.
Namun ternyata hal ini dimanfaatkan oleh umat Yahudi untuk menghasut Rasulullah SAW untuk terus beribadah menghadap Baitul Maqdis, sehingga umat Islam akan melupakan Ka’bah dan Masjidil Haram.
Akan tetapi Rasulullah tak ingin hal tersebut terjadi, Rasulullah tetap menyukai Ka’bah bagaimanapun juga.
Akhirnya Rasulullah yang sedang dilanda kebingungan pun berdoa kepada Allah SWT dan mengharap jawaban.
Perintah Mengubah Arah Kiblat
Kisah tentang perintah Allah SWT yang memerintahkan untuk mengubah arah kiblat telah disebutkan di dalam Al Qur’an.
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٤٣
Artinya: “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al Baqarah: 143).
Ayat 143 tersebut menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang berhak memberikan petunjuk dan menguasai seluruh arah.
Ayat ini ditujukan kepada kaum Yahudi karena tindakan mereka kepada Rasulullah yang seolah-olah merekalah yang paling memahami urusan ibadah.
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ١٤٤
Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 144).
Setelah itu, di ayat 144 Allah SWT memberikan jawaban kepada Rasulullah SAW tentang kebingungannya mengenai arah kiblat.
وَلَىِٕنْ اَتَيْتَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ بِكُلِّ اٰيَةٍ مَّا تَبِعُوْا قِبْلَتَكَۚ وَمَآ اَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَاجَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ اِنَّكَ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيْنَۘ ١٤٥
Artinya: “Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) mendatangkan ayat-ayat (keterangan) kepada orang-orang yang diberi kitab itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu. Engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka (pun) tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Sungguh, jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Al Baqarah: 145).
Turunlah ayat 145 sebagai penutup, di ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa agama Islam memiliki identitas yang khas dan tidak meniru agama lain.
Islam secara tegas menguraikan perbedaan keyakinan di antara umat manusia, ditambah lagi Islam menjunjung tinggi toleransi dengan tidak memaksakan ajarannya kepada pemeluk agama lain.
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Abiel Mahasin – mahasiswa magang di Memorandum







