MADINAH, MEMORANDUM – Suroso (84) tak henti-hentinya mengucap syukur atas kesempatannya menjejakkan kaki di Tanah Suci. Mimpi lamanya untuk berhaji akhirnya terwujud berkat tekad dan pengorbanan putrinya, Sukamti (44).
Sejak usia 8 tahun, Suroso kehilangan penglihatannya. Keinginan untuk berhaji menjadi satu-satunya asa di tengah keterbatasannya. Mendengar keinginan sang ayah, Sukamti bertekad untuk mewujudkannya.
Demi mewujudkan mimpi ayahnya, Sukamti rela merantau ke Malaysia selama 25 tahun. Di sana, ia bekerja keras menabung untuk membiayai Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) sang ayah, sekaligus menghidupi keluarga dan adik-adiknya.
Meskipun menjadi single parent setelah sang suami wafat, Sukamti tak patah semangat. Ia tetap gigih bekerja dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membiayai pendidikan sang anak semata wayang.
“Sukamti ini memang anak yang selalu berbakti dan memikirkan keluarga,” ujar Suroso dengan bangga.
Tekad dan pengorbanan Sukamti tak sia-sia. Tahun ini, Suroso akhirnya berkesempatan menunaikan ibadah haji bersama Sukamti. Mereka tergabung dalam kloter 9 Embarkasi Solo (SOC 09).
“Tabarakaallah, saya bisa mendampingi Bapak berhaji, meskipun agak sedih karena belum bisa sekalian bersama Ibu,” tutur Sukamti dengan mata berkaca-kaca.
Ia bersyukur mendapatkan kuota prioritas lansia dan pendamping lansia, sehingga tidak menunggu antrian terlalu lama.
Menurut Ketua Kloter, Faozan, kondis Bapak Suroso yang harus didorong kursi roda oleh pendampingnya saat ke Masjid Nabawi, sering menginspirasi jemaah lainnya.
Sehingga, anggota kloter yang lainnya juga ikut saling membantu, termasuk saat ke Raudhah, untuk mendorong kursi roda Bapak Suroso secara bergantian.
Kisah inspiratif Sukamti menjadi bukti bahwa bakti dan pengorbanan seorang anak tak ternilai harganya. Ia tak hanya mewujudkan mimpi ayahnya, tapi juga menjadi teladan bagi banyak orang.
Kisah Sukamti juga menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, segala mimpi dapat diraih, meskipun penuh dengan rintangan.(*)







